Autonomous Maintenance

Autonomous maintenance adalah aktivitas perawatan sederhana dan terpadu berupa pembersihan, pelumasan dan pengencangan oleh operartor mesin produksi sebagai bagian dari pekerjaannya sehingga operator mesin produksi lebih peduli terhadap mesinnya sendiri dan dapat mengetahui lebih lanjut pada sistem kerja mesin, memahami adanya masalah di mesin dan akhirnya mengetahui cara perbaikan mesin jika terjadi kerusakan kecil tidak selalu menunggu hasil perbaikan oleh Maintenance.

Tantangan terbesar penerapan autonomous maintenance adalah merubah paradigma tentang siapa penanggung jawab untuk merawat mesin. Paradigma lama menyebutkan bahwa operator produksi hanya bekerja untuk menghasilkan barang sedangkan perawatan mesin urusan departemen Maintenance.

Autonomous maintenance akan merubah paradigma tersebut. Tanggung jawab merawat mesin produksi adalah tangung jawab bersama antara Maintenance dan Produksi. Autonomous maintenance diharapkan mampu mengatasi masalah atau hambatan proses produksi sehingga KPI produksi akan lebih baik.

Siapakah yang bertugas sosialisasi autonomous maintenance ini, apakah Produksi ataukah Maintenance?

autonomous maintenance di pabrik

Ini merupakan salah satu tugas pokok administrasi staff Produksi, admin Maintenance dan Staff TPM. Autonomous maintenance merupakan sebuah sistem artinya manajemen puncak akan menunjuk dan membentuk team penerapan autonomous maintenance dari staff Maintenance, staff Produksi dan staff TPM jika sudah terbentuk TPM.

Setelah terbentuk team autonomous maintenance maka satu atau beberapa orang dari team tersebut wajib mengikuti program training internal atau training eskternal dibiayai perusahaan.

Training internal melalui cara mengundang konsultan manajemen ke pabrik sedangkan training eksternal yaitu mengikuti pelatihan diluar yang diselenggarakan oleh lembaga pelatihan resmi. Bisa juga menerima karyawan baru yang sudah memahami penerapan autonomous maintenance.

Team penerapan autonomous maintenance sesudah memahami penerapan autonomous maintenance secara teori berkewajiban melakukan presentasi di depan manajemen bertujuan meyakinkan komitmen manajemen menerapkan autonomous maintenance sehingga terbentuk kesepahaman dan kesepakatan bersama dari jajaran manajemen terhadap penerapan autonomous maintenance.

Selanjutnya sosialisasi autonomous maintenance ke semua karyawan tentang teknis pelaksanaan autonomous maintenance dalam pekerjaan setiap hari. Goal sosialisasi autonomous maintenance kepada semua operator adalah kesadaran bahwa kegiatan autonomous maintenance bukan tambahan beban kerja operator produksi dan bukan pelemparan tugas Maintenance.

Aktivitas autonomous maintenance meliputi:
  1. Pembersihan
  2. Pelumasan
  3. Pengencangan
1. Pembersihan

Semua bagian mesin baik di luar atau di dalam mesin, baik mudah dijangkau atau sulit dijangkau, baik kelihatan dari luar atau tidak kelihatan, perlu dilakukan pembersihan dari debu dan kotoran. Termasuk area tempat kerja perlu dilakukan pembersihan rutin agar tempat kerja menjadi tempat nyaman.

Debu dan kotoran dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada mesin berupa rusaknya seal penggerak hydraulic atau pneumatic, hubungan singkat pada instalasi listrik, kegagalan fungsi sensor dan terbakarnya modul instrumen mesin bahkan dapat menyebabkan cacat pada barang produksi.

Pembersihan secara rutin akan mencegah terjadinya kerusakan - kerusakan sehingga proses produksi tidak terhambat dan tidak ada biaya besar untuk perbaikan jika kerusakan terjadi.

Operator produksi dibekali peralatan pembersihan seperti kain lap, sapu, vacuum cleaner dan angin kompresor melalui selang terpasang di area mesin produksi. Waktu pembersihan dapat disesuaikan setiap shift misalnya 10 menit sebelum shift berakhir secara rutin setiap hari.

Bukti bahwa sudah dilakukan pembersihan adalah mengisi form pelaksanaan pembersihan harian yang akan di cek oleh pengawas bagian. Form pembersihan dibuat oleh team penerapan autonomous maintenance pada awalnya, selanjutnya akan di cetak oleh administrasi produksi.

Bagian perawatan memberikan panduan tentang cara pembersihan dan tempat mana saja yang harus dibersihkan. Supaya mudah diingat, pada setiap titik pembersihan diberikan tanda berupa pemasangan sticker tertentu.

2. Pelumasan

Pelumasan bertujuan mencegah keausan peralatan mesin bergerak seperti rantai, sproket, gear, shaft piston, bearing, roler dan roda - roda penggerak. Operator produksi melakukan pemeriksaan secara rutin dan sekaligus melakukan pelumasan oli setelah sebelumnya sudah diberitahukan cara pelumasan mesin secara tepat dari Maintenance.

Pemeriksaan adanya kebocoran oli akibat seal aus atau penutup oli rusak. Tidak semua tindakannya memberikan langsung pelumasan, ada beberapa tindakan hanya pemeriksaan saja. Contohnya gear box, yang dilakukan adalah pemeriksaan terhadap adanya kebocoran oli dan level oli. Jika ditemukan masalah maka tindakannya melaporkan ke Maintenance.

Pada pelaksanaannya operator harus dibekali peralatan berupa oil can, kuas dan kain lap majun serta form pemeriksaan pelumasan. Titik - titik pelumasan sudah diberikan tanda tertentu sehingga memudahkan operator Produksi dalam pelaksanaannya.

Berbeda dengan poin 1 pembersihan, periode pelumasan tidak setiap hari tetapi dibuat setiap minggu di akhir minggu tersebut dan sekaligus bersama pelaksanaan poin 1 pembersihan. Diperlukan kerja sama Maintenance pada proses pelaksanaannya.

3. Pengencangan

Pemeriksaan kekencangan baut - baut pengencang seperti kekencangan sambungan kabel di terminal panel listrik, kekencangan baut penahan bearing mill, kekencangan sambungan pada instalasi sistem hydraulic dan pneumatic dan kekencangan baut - baut body mesin.

Pelaksanaan poin 3 ini wajib melibatkan operator Maintenance di TKP memastikan tindakan operator Produksi sudah benar dan aman. Operator produksi dibekali peralatan seperti obeng, kunci pas, kunci ring, kunci ingris dan kunci L serta panduan pelaksanaan berupa form autonomous maintenance pengencangan yang sudah dibuatkan Maintenance

Waktu pelaksanaan autonomous maintenance Pengencangan sebaiknya dilakukan setiap bulan sekali sekaligus bersama pelaksanaan autonomous maintenance pembersihan dan pelumasan. Hal ini memerlukan waktu pelaksanaan hingga 1 jam sampai 2 jam agar semua poin pelaksanaan autonomous maintenance tersebut dapat diselesaikan sesuai harapan.

Praktekan ketiga aktivitas autonomous maintenance secara benar dan tertib maka kerusakan mesin akan menurun dan operator produksi akan merasa lebih nyaman, lebih aman dan lebih mudah melakukan pekerjaannya.

Kenapa waktu pelaksanaan setiap aktivitas autonomous maintenance berbeda?

Pembesihan setiap shift atau setiap hari durasi 10 menit
Pelumasan setiap minggu durasi 1 jam
Pengencangan setiap bulan durasi 2 jam

Alasan berbeda waktu pelaksanaan setap aktivitas autonomous maintenanance
  1. Perbedaan tingkat kesulitan pelaksanaannya. Pembersihan lebih mudah dari pelumasan dan pelumasan lebih mudah dari pengencangan
  2. Pada pelaksanaan pembersihan sudah dipersiapkan pemeriksaan kondisi yang perlu dilumasi dan pelumasannnya dilaksanakan pada saat aktivitas pelumasan. Berlaku juga saat aktivitas pelumasan sudah di mempersiapkan agenda aktivitas pengencangan
  3. Pelaksanaan autonomous maintenance dilakukan saat kondisi mesin produksi tidak melakukan proses agar down time mesin tidak terlalu tinggi dengan memecah waktu pelaksanaan setiap aktivitas autonomous maintenance
Luangkan waktu untuk perawatan mesin memanfaatkan autonomous maintenance ini, karena dapat mencegah kehilangan waktu lebih lama jika mesin mengalami kerusakan. Kuncinya adalah konsistensi komitmen manajemen menerapkan autonomous maintenance serta disiplin operator produksi dalam pelaksanaannya dan dukungan penuh bagian Maintenance.

0 Comments