-->

4 Cara Mengurangi Biaya Material Ini Bisa Mendongkrak Gross Profit

4 cara mengurangi biaya material produksi ini bisa mendongkrak gross profit yaitu dengan optimasi pemakaian material produksi, mendapatkan pemasok material termurah dengan kualitas tinggi, menghilangkan inventory berlebihan dan berhenti membuat reject.

Mengurangi biaya material tidak dimaksudkan mengurangi jumlahnya tetapi menggunakan cara lain seperti disebutkan di atas sehingga biaya material yang masuk pada kategori variable cost ini menurun.

Besarnya penurunan variable cost akan mempengaruhi peningkatan gross profit.

Sebagai bagian variable cost, biaya material mencakup biaya material utama, material pendukung dan biaya waste material, baik waste material sebagai pengganti produk cacat ketika proses produksi maupun waste material sisa proses.

Langsung saja, berikut ulasan tentang 4 cara mengurangi biaya material di bawah ini.

1. Optimasi proses pemakaian material produksi

Material yang dikeluarkan ke user untuk di proses sudah merupakan jumlah yang paling efisien sesuai jumlah yang ditetapkan dalam schedule produksi. Untuk mengetahui efisiensi material ini adalah dengan cara optimasi proses pemakaian material.

Bentuk optimasi ini meliputi pada material tetap dan material tidak tetap.

Optimasi material tetap lebih mudah misalnya mengeluarkan jumlah material 1000 pcs berdasarkan kebutuhan schedule maka akan dihasilkan output 1000 pcs juga karena barangnya tetap atau tidak berubah.

Optimasi material tetap bisa dilakukan mengikuti kaidah JIT yaitu pengukuran atau penimbangan material produksi memakai parameter batch dan lot. Warehouse mengeluarkan material produksi ketika kanban telah diterima. Komposisi setiap batch dan lot material produksi sudah tertuang pada kanban tersebut sekaligus sebagai informasi batch.

Optimasi material tidak tetap lebih rumit karena barang akan berubah dari jumlah atau dimensinya akibat proses produksi. Umumnya berlaku pada support material atau materal utama bagi proses pengolahan (contoh pengolahan kayu, pengolahan kaca dan lainnya).

Contoh optimasi material tidak tetap:
Sebuah industri furniture, material berupa lembaran particle board, MDF dan HDF. Awal proses furniture adalah proses pemotongan material dengan mesin potong auto seperti mesin panel saw atau mesin CNC yang jika tidak diperhitungkan maka akan terjadi pemborosan pada sisa potongan material yang tidak terpakai untuk proses berikutnya..

4 cara mengurangi biaya material

Optimasi proses pemakaian material adalah membuat hasil potong menjadi maksimal dan sisa potongan sedikit dengan cara riset dan simulasi pola pemotongan sebelum dipotong. Ini bisa dilakukan dengan bantuan software design atau trial proses.

2. Mendapatkan pemasok material termurah dengan kualitas tinggi

Tugas purchasing membantu supply chain guna mengurangi biaya material adalah mencari dan mendapatkan pesaing dari pemasok saat ini dengan target minimal 2 pemasok material. Kemudian purchasing membuka tender dan masing - masing pemasok diharuskan mengajukan penawaran berikut tercantum harga penawarannya.

Pemasok material terpilih yaitu pemasok yang menawarkan harga termurah diantara pesaingnya tetapi material memiliki kualitas tinggi berikut jaminan / garansi kualitas. Penawaran - penawaran mereka termasuk dari penawaran pemasok saat ini merupakan data penting untuk dipakai menghitung berapa besar biaya material produksi yang bisa dikurangi dengan cara ini.

Kontrol terhadap aktivitas purchasing ketika pengadaan material produksi yaitu membuat atau menggunakan formulir prosedur penerimaan dan pemeriksaan material oleh user. Hal ini tidak diartikan sebagai bentuk ketidak percayaan kepada purchasing tetapi lebih kepada safety prosedur perusahaan. Selama user belum menyetujui form tersebut maka pembayaran kepada pemasok atau vendor belum bisa dilakukan.

3. Menghilangkan inventory berlebihan

Inventory berlebihan merupakan salah satu dari 7 pemborosan pabrik dan harus segera dihentikan karena secara tidak langsung menggerogoti keuntungan perusahaan.

Inventory berlebihan sama dengan telah mengabaikan sistem manajemen persediaan bahan yang semestinya tidak terjadi terkait ketika perhitungan persediaan dimulai seperti rencana kebutuhan material dan estimasinya, maka jumlah material produksi sesuai kebutuhannya dan pasti terpakai habis pada interval waktu tertentu.

Inventory berlebihan mengakibatkan pembengkakan biaya material berupa penyimpanan material. Bayangkan bahwa material produksi bisa mengalami kerusakan ketika terlalu lama disimpan.

Contohnya seperti material biji plastik PP (Poly Profilene) jika terlalu lama disimpan di gudang maka bisa berubah warna menjadi kekuning - kuningan sebagai tanda penurunan kualitas.

4. Berhenti membuat reject

Produk cacat mutu selama proses produksi tidak boleh dijual ke umum ataupun ke para karyawan. Perusahaan harus menjaga citra produk dan jangan membiarkan persepsi produk rendahan di mata konsumen.

Otomatis produk cacat ini menjadi waste yang tidak bisa digunakan kembali kecuali dijual ke limbah atau ke produsen pendaur ulang.

Sumber penyebab waste material:
  1. Waste karena kegagalan kualitas selama proses produksi
  2. Waste karena setting mesin
  3. Waste karena pembuangan bagian tertentu dari WIP
Semua waste material harus tergantikan dengan material baru melalui permintaan waste dari user ke supply chain. Ini artinya telah terjadi penambahan material diluar material produksi sebelumnya untuk produk sama.

Tambah material adalah tambah biaya sekaligus memperbesar ongkos produksi produk tersebut.

Bagaimana caranya agar user tidak menghasilkan waste material ini?

Salah satu solusi agar user tidak menghasilkan waste material adalah teguran untuk individu yang terbukti menjadi sumber pertama penyebab waste.

Disini, QC harus memainkan peranannya mengendalikan kualitas. Tim QC bahkan mengantongi AQL (Accetable Quality Level) sebagai panduan menentukan standar kualitas produk. AQL ini akan memperjelas dan memudahkan katagori reject produk baik dilihat dari kaca mata standar mutu baku maupun dari kaca mata pelanggan.

Namun ada kalanya posisi QC dalam melakukan kotrol berada pada posisi kurang tepat seperti melakukan inspeksi saat barang sudah dikemas padahal pencegahan reject seharusnya dimulai dari awal proses sehingga lebih menghemat material dan time base.
Umar Al Rosid
Seorang pekerja pabrik aktif sampai sekarang yang tertarik menulis pengalaman sendiri serta menuliskan informasi lainnya

Related Posts