Mengenal Proses Produksi Furniture Panel

Mengenal bagaimana proses produksi furniture dari material berbentuk panel seperti rak TV, rak sepatu, meja kantor, meja makan, meja belajar, tempat tidur, lemari, kitchen set, tempat buku dan sejenisnya dengan mempelajari setiap proses di dalam industri furniture sehingga menghasilkan produk furniture bernilai tinggi.

Material utama produksi furniture panel adalah
  • Particle Board (PB)
  • Medium Density Fibreboard (MDF)
  • High Density Fibreboard (HDF).
Material lainnya seperti plywood dan solid dikesampingkan dulu karena perbedaan kebutuhan penggunaannya tetapi dapat dikombinasikan jika diperlukan misalnya kaki komponen bahannya dari solid dan sebagainya maupun penggunaan kayu rotan sebagai pintunya.

Material pendukung diantaranya edging, honeycomb, pvc lamined, paper lamined, veneer, cat, lem, touch up, thinner dan asesoris seperti dowel, elit, engsel, screw dan rel.

Produk furniture panel dibuat melalui beberapa tahapan proses meliputi:
  1. Proses pemotongan bahan utama (Cutting)
  2. Proses pembentukan (Shaping)
  3. Proses bor (Drilling)
  4. Proses edging
  5. Proses laminasi
  6. Proses finishing dan packing
1. Proses pemotongan bahan utama (Cutting)

Standar dimensi material utama adalah 1220mm x 2440mm berlaku pada semua jenis material utama PB, MDF dan HDF. Ketebalan material utama yaitu 36mm, 25mm, 18mm, 15mm, 12mm dan 9mm. Kecuali bahan MDF dan HDF mempunyai ketebalan sampai lebih kecil lagi 4,7mm dan 2,5mm.

Dimensi material utama di atas sering digunakan di industri furniture panel. Untuk dimensi berbeda diperoleh melalui pesanan khusus ke pabrik pembuat material utama ini.

Pemotongan material utama mengikuti pola potong sesuai rancangan mengikuti kaidah efisiensi sehingga waste material utama menjadi sedikit. Pola potong ini menerapkan sistim join / penggabungan beberapa pola potong setiap komponen produk furniture lainnya.

Design pola potong dibuat PPIC sehingga bisa diestimasi kebutuhan material utama untuk memproduksi 1 proses order.

Misalnya sebuah almari memiliki beberapa komponen penyusun almari sebagai berikut:
  • Komponen atas (Top Cover)
  • Kombonen bawah (Bottom Cover)
  • Komponen samping (Side Cover)
  • Komponen tengah (Center)
  • Komponen dipasang tetap di dalam (Fixed Shelf)
  • Komponen dipasang tidak tetap di dalam (Adjustable Shelf)
  • Laci (Front Drawer)
  • Dan seterusnya.
Efisiensi pemotongan diperoleh melalui cara join potong beberapa komponen berbeda sekaligus setiap lembaran material utama.

Komponen hasil potong selanjutnya disusun menurut jenis komponennya dan didorong ke proses pembentukan. Susunan komponen rapi dan jumlahnya rata setiap palet susunan dan disertai identitas proses seperti kanban (kartu pengantar proses produksi).

2. Proses pembentukan (Shaping)

Meliputi proses grooving dan profiling. Proses grooving adalah proses membuat alur garis sejajar berukuran tertentu.

Fungsi grooving sebagai tempat ujung komponen lainnya sehingga seolah - olah dijepit dalam grooving tersebut.

Proses profiling adalah pembentukan radial bagian tertentu di sisi luar komponen membentuk ukuran radian (R) tertentu.

Proses shaping ini bisa dilakukan secara manual menggunakan mesin Router dan mesin Spindle dan secara otomatis menggunakan mesin automatis seperti mesin double end.

Beberapa komponen terdapat campuran antara PB dan MDF dan ini disebut komponen rangka. Di dalam rangka diisi material honeycomb supaya menguatkan komponen rangka tersebut yang ditutup lembaran MDF ukuran 4,7 mm bagian permukaan atas dan bawah.

Proses komponen rangka ini menggunakan lem sehingga perlu di tekan dengan mesin press sekitar 20 menit sebelum lanjut ke pembentukan berikutnya.

3. Proses bor (Drilling)

Proses membuat lubang di komponen untuk lubang dowel, elit atau screw. Proses drilling menggunakan mesin bor manual, mesin bor automatis dan mesin CNC tergantung dari tingkat kerumitan pola bor maupun jumlah bor pada setiap komponen.

Potensi reject sangat tinggi dalam proses drilling seperti salah ukuran lubang bor, kedalaman lubang bor salah, jarak antar lubang bor berbeda, bagian tepian lubang bor kurang rata dan posisi lubang bor meleset beberapa milimeter dari seharusnya.

Ketika terjadi kesalahan bor maka berpotensi pada penggantian seluruh komponen dalam 1 order produksi. Misalnya 1 order produksi berjumlah 500 set maka akan menjadi waste sebanyak 500 komponen salah bor tersebut.

Tips mencegah kesalahan bor ini bisa dilakukan dengan cara cek hasil bor setiap 30 komponen yang diproses. Selain itu untuk komponen hasil bor harus dilakukan perakitan dengan jenis komponen lainnya sehingga dapat diketahui kontruksinya sudah sesuai atau belum.

4. Proses edging

Melapisi permukaan tepi komponen menggunakan bahan edging PVC atau paper. Jumlah sisi permukaan yang dilapisi tergantung kontruksi furniture, bisa hanya 1 sisi atau semua sisi permukaan. Komponen standar memiliki 4 sisi permukaan berbentuk lurus (straight}.

edging furniture

Bagaimana jika salah satu atau lebih permukaanya berbentuk melengkung atau lekukan gelombang?
Bentuk sisi permukaan tidak lurus tidak bisa diproses menggunakan mesin edging automatis tetapi harus dilakukan oleh mesin edging manual.

Hasil edging antara mesin edging automatis dengan mesin edging manual adalah sama dalam kualitasnya tetapi cycle time berbeda karena proses di mesin edging manual melalui cara satu per satu komponen di edging oleh operator dan tidak ada setingan speed mesin.

5. Proses laminasi

Merupakan proses melapisi permukaan atas bawah komponen menggunakan bahan laminasi PVC, paper atau veneer sehingga tampak berwarna seperti warna alami kayu atau warna yang ditentukan. Contoh warna alami kayu diantaranya topan oak, brown oak, acacia, topan walnut dan euro oak.

Pada bahan utama yang akan dibentuk komponen straight dan rata permukaan komponen, proses laminasi bisa dilakukan sebelum bahan utama dipotong yaitu menggunakan mesin laminasi untuk ukuram material standar.

Ini bisa menghemat time base proses karena menghilangkan proses laminasi per komponen yang jumlahnya bisa mencapai ribuan pcs.

Tetapi jenis komponen soft berupa permukaan sisi radial maka proses laminasi awal tesebut tidak bisa dilakukan.

artikel lainnya: Contoh Pertanyaan Berikut Jawaban Antara Perekrut dan Pelamar Kerja

6. Proses finishing dan packing

Komponen hasil proses laminasi terdapat sisa lem menempel pada bagian pinggir / tepian akhir permukaan yang di lem dan ini harus dibersihkan sampai tidak ada bekas tempelan lem tersebut. Cara pembersihan menggunakan kain majun putih dibasahi thinner.

Setelah pembersihan sisa lem perlu dipastikan apakah ada gap antara tepian edging dengan tepian permukaan atas bawah yang mungkin disebabkan oleh reject edging seperti over trimming, bubble edging, scoring dan chipping. Jika terdapat gap maka segera tutup menggunakan cat yang warnanya sama dengan warna laminasi (touch up).

Komponen laminasi dan komponen lainnya yang tidak dilaminasi selanjutnya disiapkan di area packing agar segera dilakukan packing berdasarkan panduan "susunan packing" item tersebut.

0 Comments

Posting Komentar

Admin akan berupaya membalas setiap komentar Anda kecuali dari Anonim akan dibalas berdasarkan pertimbangan tertentu. Terima kasih