Mengetahui Density MDF Furniture Dan Klasifikasi Emisi Formaldehida

Cara mengetahui density MDF salah satu bahan utama produksi furniture panel terbuat dari pecahan residu kayu atau kayu lunak menjadi serat kayu dalam bentuk panel dibuat dengan tekanan dan temperature tinggi berikut mengetahui klasifikasi emisi formal dehida sehingga dapat ditentukan kualitas bahan MDF ini sesuai standar.

Industri furniture memilih material utama jenis MDF karena beberapa kelebihannya diantaranya lebih murah dibandingkan kayu alami (solid), kekuatan dan ukurannya konsisten, dimensi stabil, peresapan cat dan lem kayu sangat baik, daya kencang skrup kuat, substrat sangat baik untuk veneer, bentuknya bagus, mampu meredam suara dan tidak dapat dimakan oleh kumbang kutu.
furniture MDF

Perabot furniture terpajang di atas sekilas tampak seperti terbuat plastik tetapi sebenarnya bahan dasar perabot furniture tersebut adalah jenis MDF Medium Density Fibreboard yang diproses akhir menggunakan cat coating variasi warna melalui proses Ultra Violet.

Visual warna hasil proses Ultra Violet bisa beragam tetapi merata satu warna untuk satu permukaan. Contoh di atas terdapat 4 warna kombinasi yaitu white, light grey, pink dan dark grey.

Proses Ultra Violet hanya bisa digunakan untuk material density tinggi seperti MDF ini dan bisa juga material jenis HDF High Density Fibreboard hanya saja harganya terlalu tinggi kecuali produk tersebut akan dipasarkan eksport keluar negeri mungkin bisa menutup biaya proses produksinya.

Proses Ultra Violet memerlukan time base tinggi dan belum dapat diatur kecepatan proses setiap mesin Ultra Violet karena setiap mesin memiliki fixed cycle time.

Komposisi MDF meliputi serat kayu 82%, lem resin urea formaldehida (H2CO) sering dikenal istilah formalin atau metanal sebesar 9%, air 8% dan parafin 1%.

Terdapat jenis MDF khusus berwarna seperti MDF tahan terhadap kelembaban memiliki warna hijau, MDF tahan terhadap api diberi berwarna merah atau biru, tentu harganya akan lebih mahal dibanding MDF biasa polos.

Bahan residu kayu MDF paling bagus adalah pohon pinus radiata Australia dan Selandia Baru tetapi perkembangan berikutnya bahan kayu lain dan kertas bekas dapat digunakan untuk pembuatan MDF.

jenis MDF furniture

MDF terdapat kelemahan diantaranya:
  1. MDF dapat melengkung (bending) di lingkungan lembab jika tidak di segel secara benar saat masih lembaran standar maupun MDF hasil potongan (WIP)
  2. Membengkak dan pecah ketika jenuh dengan air
  3. Melepaskan formalin bebas ke udara yang merupakan karsinogen manusia terutama saat proses potong dan proses amplas
  4. Pemakaian pisau lebih cepat tumpul.
Dampak karsinogen diantaranya iritasi dan alergi pada mata dan paru-paru, kanker sinus hidung, kanker nasofaring dan leukimia (sumber: Badan Internasional untuk Penelitian Kanker IARC WHO dan EPA Amerika Serikat).

Diwajibkan operator mesin potong dan bagian amplas memakai alat bantu pernapasan saat melakukan proses jenis MDF ini atau menggunakan masker respirator dan rutin mengganti filternya setiap 3 bulan. Pemakaian pisau pengolahan MDF harus menggunakan pisau bermata tungsten karbida supaya pisau tersebut tidak cepat tumpul.

MDF memiliki karakteristik khusus tidak dimiliki PB terutama densitynya / kerapatannya.

Density (ρ) adalah perbandingan antara masa benda dibagi dengan volumenya.
density calculation

Standar dimensi lembaran MDF adalah 1220 mm x 2440 mm dan ketebalan 1,5 mm sampai 32 mm.

Apakah density MDF sama untuk setiap ketebalannya?

Berdasarkan hasil percobaan pengukuran density MDF beberapa ketebalan untuk semua tipe E0, E1, E2, P2, FR dan HMR diperoleh data density MDF sebagai berikut:
  • Ketebalan 1,5 mm - 2,4 mm average density 825 Kg/M3
  • Ketebalan 2,5 mm - 3 mm average density 800 Kg/M3
  • Ketebalan 3,1 mm - 6 mm average density 780 Kg/M3
  • Ketebalan 6,1 mm - 12 mm average density 750 Kg/M3
  • Ketebalan 12,1 mm - 18 mm average density 680 Kg/M3
  • Ketebalan 18,1 mm - 25 mm average density 660 Kg/M3
  • Ketebalan 25,1 mm - 32 mm average density 640 Kg/M3
Semakin besar ketebalan MDF maka density semakin berkurang. Jika dimensi sebagai pembaginya kita anggap konstan maka bisa dinyatakan bahwa semakin tebal MDF sama dengan semakin ringan.

Seharusnya nilai density MDF sama setiap ketebalan MDF. Berkurang density pada ketebalan MDF lebih besar ini dapat disebabkan kerapatan masa partikel bagian tengah lebih longgar dibanding permukaan atau kerapatannya tidak sama antara permukaan dan bagian tengan MDF.

Bila hal ini masuk dalam kategori toleransi standar QC maka tinggal melanjutkan pengolahan MDF tersebut ke proses produksi furniture panel tetapi bila hal ini diluar toleransi QC dengan mengacu standar mutu pembuat MDF, maka bisa melakukan complain terhadap perbedaan density ini, mungkin saat proses press mesinnya kondisi temperature dan tekanannya kurang.

Pengukuran ini berlaku untuk semua tipe : E0, E1, E2, P2, FR dan HMR.

Klasifikasi E0, E1, E2, P2, FR dan HMR

1. Klasifikasi E0, E1 dan E2 diterbitkan oleh Standar Emisi Dewan Komposit Internasional (ICBES) dan European Panel Industry, membagi klasifikasi berdasarkan tingkat emisi formaldehida.
E0 : Emisi formaldehida kurang dari 3 miligram per 100 gram.
E1 : Emisi formaldehida antara 3 sampai 9 miligram per 100 gram
E2 : Emisi formaldehida antara 9 sampai 30 miligram per 100 gram

2. Klasifikasi P2 diterbitkan oleh California Air Regulatory Board (CARB)
CARB P1 : Emisi formaldehida 0.08 ppm
CARB P2 : Emisi formaldehida 0.05 ppm, memiliki standar emisi lebih tinggi dari E0 standar eropa

MDF FR atau MDF Fire Retardant adalah MDF tahan api biasanya berwarna merah. MDF HMR (High Moisture Resistant) adalah MDF tahan air biasanya berwarna hijau. Kedua jenis MDF ini hasil perkembangan teknologi pengolahan MDF biasa (polos) menjadi MDF memiliki ketahanan terhadap air atau ketahanan terhadap api.

Emisi formaldehida MDF FR dan MDF HMR mengikuti salah satu 2 standar di atas yaitu bisa E2, E1, E0 dan P2.

baca juga: Mengenal Proses Produksi Furniture Panel

3. Klasifikasi JIS Japanese Industrial Standard melalui lembaga JAS Japanese Agricultural Standard telah menetapkan emisi formaldehida paling rendah dibawah 0,005 mg dengan kode F*, F** atau F***.tatapi belum banyak digunakan di para produsen furniture di Indonesia.

0 Comments

Posting Komentar

Admin akan berupaya membalas setiap komentar Anda kecuali dari Anonim akan dibalas berdasarkan pertimbangan tertentu. Terima kasih