Menentukan Waterfall Atau Agile Dalam Manajemen Proyek

Bagaimana menentukan pilihan apakah akan menggunakan waterfall atau agile dalam melaksanakan suatu manajemen proyek maupun implementasi kerangka kerja lainnya agar mendapatkan hasil berkualitas sesuai keinginan pelanggan. Mari kita simak perbedaan antara waterfall dan agile ini.

menentukan waterfall atau agile dalam manajemen proyek

Waterfall adalah metodologi sebuah desain proses kerja berurutan satu arah seperti aliran air terjun. Proses kerja waterfall meliputi:
  1. Requirements
  2. Analisis
  3. Design
  4. Development
  5. Testing
  6. Implementasi
  7. Maintenance
Penggunaan waterfall sangat efektif bagi proyek bersifat prediktif, hanya sedikit mengalami perubahan scope.Waterfall memerlukan requirement awal sudah final. Tim proyek waterfall membuat rencana besar di awal proyek selanjutnya dieksekusi secara berurutan dan mencegah terjadinya suatu perubahan rencana awal tersebut.

Keberhasilan waterfall diukur berdasarkan perencanaan akhir sama dengan perencanaan awal meliputi on scope, on budget dan on time. Metodologi waterfall sifatnya linear dan sekuensial. Ketika menghadapi perubahan maka secara reaktif berusaha menolak perubahan untuk menjaga perencanaan sesuai scope di awal proyek.

baca juga: 12 Panduan Taktis Manajemen Proyek

Agile melakukan delivery melalui iterasi (pengulangan proses) setiap akhir sprint dengan durasi kurang 1 bulan. Pelanggan tidak harus menunggu diakhir proyek untuk dapat menggunakan produk melainkan cukup di akhir sprint berdurasi kurang 1 bulan.

Delivery di agile mengenal pendekatan MVP (Minimum Viable Product) yaitu minimum pengiriman produk agar dapat digunakan pelanggan.

Manfaat MPV (Minimum Viable Product):
Product owner memperoleh pemahaman minat pelanggan terhadap produk secepat mungkin tanpa harus sepenuhnya mengembangkan produk. Semakin cepat product owner mengetahui apakah produknya akan menarik pelanggan maka semakin sedikit pula usaha dan biaya untuk produk gagal pemasaran. Selain itu product owner akan segera mendapatkan umpan balik untuk dapat menyempurnakan produknya sesuai kebutuhan pelanggan terkini.

Waterfall fokus pada output sedangkan agile fokus terhadap outcome atau value.

Waterfall berdasarkan negosiasi kontrak dengan pelanggan sehingga pelanggan tidak akan bisa membuat perubahan apapun sampai kontraknya selesai. Agile menjalin kolaborasi bersama pelanggan secara intens ketika proses pembuatan produk agar terukur kepuasan pelanggan tersebut.

Waterfall membutuhkan kehebatan proses dan alat. Agile membutuhkan keunggulan individu dan kemampuan berinteraksi satu sama lain sehingga sering lahir ide kreatif

Kemampuan tim agile merespons perubahan ketimbang mengikuti struktur rencana karena sebenarnya tidak ada rencana terstruktur. Semua tindakan didasari umpan balik pelanggan dan kenyataan di lapangan atau market. Oleh karena itu, tim adaptif sangat dibutuhkan dalam tim agile. Kemampuan individu lebih penting ketimbang mengikuti rencana seperti di waterfall.

Waterfall mengedepankan proses pembuatan produk didokumentasikan menyeluruh dalam bentuk rancangan sejak awal sampai produknya selesai. Agile melahirkan prototipe produk lebih sering

Berikut perbedaan Waterfall dan Agile lainya dilihat melalui aspek ability to change, bussiness value, risk dan visibility product.

Ability to change
Waterfall tidak memberikan ruang untuk merubah scope sedangkan agile memberikan ruang terhadap perubahan scope agar produk sesuai kondisi market terkini.

Business value
Waterfall hanya dapat dirasakan di akhir proyek itupun jika kondisi market belum berubah sedangkan agile dapat dirasakan setiap akhir sprint sehingga tidak harus menunggu terlalu lama sampai proyek selesai.

Risk
Waterfall lebih beresiko terhadap bisnis karena perencanaan jangka panjang mengandung resiko meleset dan salah estimasi sedangkan agile akan kembali di inspect dan adapt di sprint planning

Visibility product
Waterfall, business user hanya mendapat laporan - laporan prosentasi proyek tetapi tidak merasakan produknya sedangkan agile visibility product dapat terlihat setiap sprint karena masing - masing sprint minimal sudah ada 1 improvement bisa dirasakan.

Secara efektivitas, agile lebih memungkinkan sukses di era serba cepat seperti sekarang. Menurut penelitian oleh Association for Project Management (AMP) menunjukkan bahwa agile memungkinkan proyek sukses sebesar 42% sementara waterfall hanya 14% tetapi bukan berarti waterfall tidak bisa dipakai, hanya saja untuk tim kecil dengan kebutuhan yang cepat maka menggunakan agile lebih bisa diandalkan.

baca juga: 4 Nilai dan 12 Prinsip Agile

Berikut 6 proses implementasi agile:
  1. Perencanaan: penentuan goal setting dan value.
  2. Road map creation: mempersiapkan segala kebutuhan saat sprint. Setiap anggota harus memahami betul segala tugasnya karena mereka akan bekerja sendiri sendiri untuk menyelesaikan backlog.
  3. Release planning: menyampaikan planning ke semua stakeholder terlibat
  4. Sprint planning: merencanakan bagaimana eksekusi dari semua rencana termasuk indikator penyelesaian rencana
  5. Daily meeting: Berupa meeting pendek sekitar 15 menit setiap hari selama jangka waktu sprint
  6. Sprint review: meeting dengan stakeholder tentang sprint yang sudah dikerjakan, evaluasi mana saja yang berhasil dan mana saja yang harus diperbaiki
Implementasi agile bisa berhasil asalkan semua anggota tim bisa bekerja sama secara transparan, bersikap kritis terhadap pekerjaan yang diinspeksi dan mampu beradaptasi melalui eksperimen dengan peluang.

0 Comments

Posting Komentar

Admin akan berupaya membalas setiap komentar Anda kecuali dari Anonim akan dibalas berdasarkan pertimbangan tertentu. Terima kasih