Sejarah Perkembangan Industri Manufaktur

Manufaktur adalah suatu kegiatan manusia yang mencakup semua fase dalam kehidupan. Produk-produk manufaktur adalah semua yang ada di sekitar kita, yaitu apa yang kita kenakan, kita tempati, kita lewati bahkan sebagian besar apa yang kita makan, semuanya mengalami sejumlah proses manufaktur.

Kata manufaktur berasal dari bahasa latin yaitu manus (tangan) dan factus (terbuat) dan ditetapkan di setiap kamus sebagai membuat barang dengan tangan atau khususnya dengan mesin.

Kita dapat melihat bahwa definisi ini tidak benar-benar lengkap namun kita dapat menggunakannya untuk memahami peran manufaktur dalam perkembangan manusia.

Sejarah perkembangan industri manufaktur ditandai dengan beberapa tahap perkembangan, namun akibatnya yang bertumpuk telah menjadi konsekuensi sosial subtansial sehingga sudah sepantasnya bila dianggap revolusioner.

Perkembangan Awal

Manufaktur telah dipraktikan selama ratusan tahun, dimulai dengan pembuatan benda-benda dari batu, keramik dan logam.

Bangsa Romawi sudah memiliki pabrik gelas untuk produksi massal dan banyak kegiatan lain termasuk pertambangan, metalurgi dan industri tekstil yang telah menerapkan prinsip pembagian kerja.

Pada perkembangan awal industri manufaktur ini sebagian besar proses manufaktur dijalankan sebagai kegiatan individu yang dilakukan tukang dan para pembantunya.

Kelihaian generasi tukang berikutnya membawa pada perkembangan berbagai proses serta beragam produk, namun skala produksinya sangat dibatasi oleh tenaga yang tersedia.

Tenaga air yang melengkapi tenaga otot hanya di abad pertengahan dan hanya sampai pada tingkatan tertentu yang dimungkinkan oleh tersedianya air secara cepat, sehingga hal ini membatasi lokasi industri dan tingkat pertumbuhan produksi industrial.

Revolusi Industri Pertama

Pada akhir abad ke-18, perkembangan mesin uap memungkinkan tersedianya energi dalam jumlah besar serta pada banyak lokasi.

Hal ini mendorong kemajuan dalam proses manufaktur serta memfasilitasi pertumbuhan produksi dan penyediaan barang-barang secara melimpah terutama di bidang agrikultur.

Akibatnya, masyarakat juga mengalami transformasi dan selanjutnya perkembangan-perkembangan ini mulai dikenal sebagai revolusi industri pertama.

Revolusi Industri Kedua

Era ini ditandai oleh energi mekanis yang melengkapi tenaga fisik para pekerja seperti penggunaan ban berjalan. Mesin-mesin digerakan oleh sabuk-sabuk dari poros pemutar tetapi jangkauan mekanisasi pada saat ini masih terbatas.

Menjelang pertengahan abad ke-19, beberapa fungsi pekerja diambil alih oleh mesin dimana komponen-komponen mekanis semacam nok dan tuas dirancang sedemikian rupa agar melakukan tugas-tugas relatif sederhana dan berulang-ulang.

Mekanisme semacam itu, atau hard automation, membatasi sejumlah pekerjaan tertentu, namun para pekerja yang tersisihkan bersama – sama dengan para pekerja agrikultur, biasanya akan menemukan pekerjaan- pekerjaan di sektor manufaktur dan jasa lainnya.

Pada abad ke-20, perkembangan kemudian ditambah dengan diperkenalkannya energi listrik. Sekarang, mesin-mesin digerakan secara terpisah dan control – control berbasis sirkuit listrik memungkinkan tingkat kemutakhiran yang cukup baik.

Revolusi Industri Ketiga
Sejarah Perkembangan Industri Manufaktur
Mulai paruh kedua abad ke-20, perkembangan lebih jauh mulai terjadi. Komputer-komputer mulai menawarkan kekuatan komputasi yang tidak terbayangkan sampai saat ini, dan dengan solid state electronics - tanpa transistor – memungkinkan pembuatan berbagai macam perangkat cerdas dengan biaya yang semakin rendah.

Pada awal tahun 1970 berhasil dibuat microchip dengan ratusan komponen elektronik yang dimasukan ke dalam suatu wafer silicon yang memungkinkan dilakukannya tugas-tugas komputasi, control, perencanaan dan manajemen dalam kecepatan tinggi, biasanya secara real time serta dengan biaya rendah.

Teknologi komputer mengalami perkembangan pesat setelah ditemukan teknologi semikonduktor, transistor serta Integrated Chip (IC) sehingga menjadikan ukuran komputer lebih kecil dengan konsumsi daya listrik semakin sedikit tetapi kemampuan berhitungnya semakin meningkat.

Ukuran komputer semakin kecil sehingga dapat dipasang pada mesin produksi dan menggantikan tenaga manusia sebagai operator produksi.

Konsekuensi-konsekuensi tersebut telah jauh menjangkau setiap sisi kehidupan dan nampaknya masih akan terus berkembang tak terbatas.

Bagaimanapun, ini merupakan bukti bahwa dampak sosial dari perubahan – perubahan tersebut akan sama mendasarnya dengan dampak yang diakibatkan oleh revolusi industri abad ke-19.

Karakteristik revolusi industri ini adalah, disamping kemungkinan digantinya sebagian besar pekerja fisik juga dapat meningkatkan dan kadang-kadang bahkan mengganti upaya mental.

Beberapa konsekuensi perkembangan ini sudah terbukti. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang bersifat fisik dan berbahaya atau pekerjaan yang membosankan yang dilakukan oleh mesin atau robot, kini dikendalikan computer sehingga varietas produk bertambah serta kualitas meningkat.

Salah satu fitur perkembangan yang paling menyolok adalah peningkatan dramatis dalam kemamouan kita mengumpulkan serta mengolah informasi; dan sudah diterima secara umum bahwa kita telah memasuki era informasi.

Ada beberapa orang yang percaya bahwa kita sedang dalam proses perkembangan menuju suatu masyarakat “postindustrial” dimana manufaktur menjadi lebih lemah dan sektor jasa yang berbasis pengolahan informasi akan menghasilkan kemakmuran.
Umar A
Work Can Be Fun

Related Posts