Electroplating Tembaga Mengatasi Reject Oksidasi

Electroplating tembaga mengatasi reject oksidasi dimaksudkan untuk mengatasi masalah reject permukaan tembaga berupa oksidasi tembaga (permukaan beda warna maupun berkarat) menggunakan cara electroplating tembaga (penyepuhan tembaga) sehingga mengembalikan standar kualitas tembaga sebagai bahan baku proses produksi beberapa industri pengguna bahan baku tembaga seperti industri peralatan listrik, industri komponen elektronik dan produsen kerajinan karya seni.

Dampak adanya oksidasi tembaga adalah:
  1. Daya hantar listrik tembaga menjadi berkurang
  2. Bahan baku tembaga cepat rusak karena berkarat
  3. Rentan terhada pengaruh induksi electromagnet.
Penyebab oksidasi bahan baku tembaga diantaranya:
  1. Bahan pelapisan saat proses finishing tembaga terlalu sedikit atau kurang sesuai formula
  2. Mesin finishing abnormal
  3. Raw material dibawah standar kualitas
  4. Proses pengemasan dan penyimpanan barang jadi kurang tepat
  5. Ketika proses delivery mengalami oksidasi dari kondisi lingkungan selama perjalanan.
Terlihat bahwa oksidasi tembaga sudah terjadi ketika bahan baku masih di pemasok dan menjadi tanggung jawab pemasok.

mengatasi oksidasi tembaga

Kenapa bahan baku tembaga dibawah standar masih tetap diterima?

QC incoming material memastikan bahan baku sesuai standar kualitas maupun AQL dan berwenang menolak serta mengembalikan bahan baku ke pemasok jika ditemukan kualitas diluar standar. Tetapi bagaimana jika bahan baku tembaga ini adalah impor dan terima jadi saat kedatangan di gudang?

Report QC incoming material sudah dilayangkan agar pengiriman bahan baku sesuai standar kualitas namun karena sesuatu hal terpaksa harus menerima jadi apapun bahan baku impor dan kondisi ini dijadikan sebuah Concesive.

Jadi terpaksa bahan baku tembaga yang beroksidasi harus diperbaiki menggunakan electroplating tembaga.

Tetapi oksidasi tembaga bisa pula terjadi pada barang jadi atau WIP akibat salah metode kerja seperti operator tidak menggunakan sarung tangan maupun sarung jari saat menyentuh permukaan tembaga atau suhu ruangan produksi kurang dingin menyebabkan kelembaban ruangan produksi meningkat. Oksidasi tembaga karena kondisi ini menyebabkan reject barang jadi dan tidak bisa diatasi melalui proses electroplating tembaga tetapi masih bisa dilakukan perbaikannya secara manual.

Cara mengatasi oksidasi tembaga secara manual
  1. Siapkan penghapus pena dan alkohol 96%.
  2. Basahi penghapus pena menggunakan sedikit alkohol 96%
  3. Hapus oksidasi tembaga secara berulang sampai tidak tampak oksidasinya.
Terdapat kekurangan dalam mengatasi oksidasi tembaga secara manual ini yaitu:
  1. Hasil perbaikan oksidasi tembaga dalam jumlah sangat sedikit
  2. Kestabilan kerja operator kurang karena faktor kejenuhan dan kelelahan
  3. Hasil perbaikan tidak sempurna bisa menyebabkan terjadi lagi oksidasi tembaga
Sebaiknya jika terjadi oksidasi tembaga pada WIP dan barang jadi ini tidak perlu dilakukan perbaikan, langsung menjadi kategori NG untuk mencegah oksidasi terlihat setelah barang jadi dikirim ke pelanggan.

Pemeriksaan kualitas bahan baku tembaga menjadi kuncinya yang selanjutnya melakukan perbaikan mengatasi oksidasi tembaga jika ternyata ditemukan adanya oksidasi tembaga bahan baku melalui cara mengatasinya menggunakan electroplating tembaga.

Electroplating tembaga (penyepuhan tembaga)

Bahan electroplating tembaga diantaranya menggunakan salah satu dari 4 jenis larutan elektrolit yaitu larutan asam, larutan sianida, larutan fluoborat dan larutan pyrophosphate.

Electroplating tembaga dilakukan melalui elektrokimia yaitu reaksi kimia antara tembaga dan larutan elektrolit menghasilkan garam tembaga berupa ion Cu2+ yang akan melapisi permukaan bahan baku dan pemicu reaksi kimianya bersumber dari hantaran listrik searah. Ion Cu2+ bergerak ke katoda, mengambil elektron dan menjadi logam tembaga yang menempel pada tembaga katoda.

Contoh teknis electroplating dengan larutan asam Sulfat H2SO4:

Bahan dan peralatan yang digunakan untuk tiap liter :
  1. Cooper sulfat CuSO4 berbentuk kristal: 150 –250 gram
  2. Tembaga pelapis
  3. Asam sulfat H2SO4 : 45 – 100 ml
  4. Tangki keramik atau tangki plastik
  5. DC Power Supply
  6. Bahan baku tembaga
  7. Air
Tangki diisi air terlebih dulu selanjutnya copper sulfat CuSO4 dan asam sulfat H2SO4 sedikit demi sedikit agar tidak timbul panas berlebihan. Atur output ampere DC power supply kisaran 7 – 17 Ampere.

Bahan baku tembaga dihubungkan dengan kutub negatif power supply atau disebut sebagai katoda, sedangkan tembaga yang menjadi sumber pelapis dihubungkan dengan kutub positif power supply atau anoda.

Reaksi kimia yang terjadi di katoda tempat bahan baku:

Cu2+ H2O + 2e = Cu
Ion SO42- bergerak ke anoda memberikan elektron dan bereaksi dengan tembaga anoda.

Apakah electroplating tembaga bisa dilakukan sendiri secara manual dengan mempersiapkan semua peralatan dan bahan electroplating?

Pada prinsipnya jika semua bahan dan peralatan electroplating tersedia maka bisa melakukan electroplating tembaga sendiri. Masalahnya jika bahan baku tembaga bukan berbentuk lembaran tetapi berupa komponen kecil dengan jumlah ribuan maka proses electroplating harus menggunakan mesin electroplating tersendiri.

Agar mendapatkan hasil electroplating tembaga sesuai standar kualitas terbaik maka perlu mengatur konsentrasi tembaga (copper) dalam larutan, konsentrasi asam sulfat, ampere, suhu larutan dalam operasi pelapisan, pengadukan lebih perlahan dan terus menerus dan pemberian bahan-bahan tambahan.

Menerapkan Analisis SWOT Dan Fishbone Diagram Secara Terpadu

Analisis SWOT adalah metode strategis penyusunan suatu perencanaan dengan menganalisa 4 aspek yaitu Strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threats sedangkan fishbone diagram merupakan alat pengendalian kualitas menggunakan hubungan sebab akibat dalam diagram berbentuk tulang ikan dan apa jadinya jika menerapkan analisis swot dan fishbone diagram ini bersama - sama secara terpadu?

Mari kita kaji lebih jauh ... tetapi sebelumnya kita ketahui dulu ulasan artikel panjang ini akan meliputi:
  1. Pemahaman dan contoh analisis SWOT
  2. Fishbone diagram terhadap 7 tools 8 steps.
  3. Analisis SWOT dan Fishbone Diagram Secara Terpadu
1. Pemahaman dan Contoh Analisis SWOT

Prinsip dasar analisis SWOT:
  • Strengths are able to take advantage of Opportunities.
  • Strengths are able to overcome Weaknesses which prevent the advantages of Opportunities.
  • Strengths are able to deal with Threats.
  • Strengths are able to overcome Weaknesses that have the potential to become Threats.
Strengths (kekuatan)
Strengths analisis SWOT adalah aspek internal perusahaan, organisasi, individu sebagai suatu keunggulan dan belum tentu dimiliki lainnya. Keunggulan ini erat kaitannya dengan sumber daya serta track record yang meningkatkan reputasi serta popularitas seperti merk dagang yang sudah dikenal baik secara umum.

Weaknesses (kelemahan)
Weaknesses analisis SWOT adalah aspek internal perusahaan, organisasi, individu sebagai kelemahan / kekurangan disebabkan dari dalam atau pengaruh luar. Weaknesses jarang menampakan dirinya kecuali melalui evaluasi ekstra supaya dapat muncul dan diakui sebagai suatu weaknesses. Tetapi weaknesses bisa mudah terlihat jika faktor penyebabnya dari luar.

Opportunities (peluang)
Opportunities analisis SWOT adalah aspek eksternal perusahaan, organisasi, individu sebagai suatu peluang / kesempatan lebih maju. Setiap opportunities harus ditindak lanjuti menjadi nyata. Opportunities paling utama adalah kepercayaan seperti kepercayaan pasar dan masyarakat menggunakan produk serta kepercayaan investor menanamkan modal.

Threats (ancaman)
Threats analisis SWOT adalah aspek eksternal perusahaan, organisasi, individu sebagai poin penyebab penurunan hasil dan kinerja. Sumber asal threats dari weaknesses yang tidak bisa diselesaikan dan faktor luar contohnya produsen pesaing, krisis global dan deregulasi pemerintah.

Pengertian analisis SWOT menurut para ahli manajemen seperti Freddy Rangkuti, Rais, Philip Kotler, Pearce, Robinson, Yusanto, Widjajakusuma, Jogiyanto, Armstrong, Harline dan Ferrel berhubungan dalam hal:
  • Perencanaan spekulasi bisnis baik bisnis baru maupun bisnis sedang berjalan
  • Perubahan manajemen
  • Perencanaan proyek
  • Pengembangan diri
menerapkan analisis SWOT

Contoh analisis SWOT perusahaan:

Strengths: perusahaan memiliki segala sumber daya, efisien dan efektif serta dukungan kekuatan modal.

Opportunities: perusahaan memiliki akses ke instansi pemerintahan sehingga berpeluang banyak menerima proyek pemerintah. Perusahaan merupakan salah satu member group pemasok perusahaan terbesar di Indonesia sehingga order bisa stabil dan meningkat.

Weaknesses: Pengukuran keberhasilan bisnis perusahaan oleh manajemen perusahaan selama ini berdasarkan Output Value, ROI Return Of Investment dan ROCE Return Of Capital Employed dikonversi pada satuan rupiah atau mata uang lain seperti dollar. Weaknesses perusahaannya dalam bentuk status mencukupkan diri pada pengukuran finansial tersebut sedangkan faktor penyebab kegagalan finansial jarang diperhitungkan.

Threats: Weaknesses dari mengabaikan faktor penyebab keberhasilan dan kegagalan finansial yang dikenal dengan istilah performance drivers tersebut berpotensi menjadi Threats sehingga akan menurunkan profit perusahaan secara keseluruhan. Performance drivers mencakup 4 persfektif: Keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta learning and growth.

Mari kita telaah hasil eksperimen analisis SWOT untuk penggunaan yang berbeda dari teori disebutkan di atas. Eksperimen penggunaan analisis SWOT berdasarkan praktek lapangan menghadapi masalah nyata seputar proses industri.

Analisis SWOT yang coba diuraikan disini untuk penggunaan manajemen pengendalian kualitas dan manufacture sehingga kemungkinan nantinya akan terjadi perubahan pemahaman baru terhadap pengertian analisis SWOT dari yang selama ini telah baku sebagai pengertian analisis SWOT secara umum.

Tujuan menggunakan analisis SWOT dalam manajemen pengendalian kualitas dan manufacture adalah menyempurnakan metode pengendalian kualitas dan proses pemecahan masalah di produksi sehingga hasil lebih maksimal.

Hasil sempurna pengendalian kualitas:
  • Zero defect : tidak ada cacat mutu
  • Zero complaint : tidak ada keluhan atas kualitas dari QC dan pelanggan
  • New business opportunities : peluang pertumbuhan order atas kepercayaan pelanggan
2. Fishbone Diagram Terhadap 7 Tools 8 Steps

Secara sederhana bisa digambarkan:
7 tools = alat pengendalian kualitas / QC
8 Steps = langkah perbaikan masalah kualitas / QCC

7 tools quality control:
  1. Checksheet
  2. Pareto diagram
  3. Fishbone diagram
  4. Histogram
  5. Control chart
  6. Scatter diagram
  7. Stratification
8 Step Quality Control Cyrcle:
  1. Menemukan tema permasalahan
  2. Menetapkan target
  3. Melakukan analisa kondisi yang ada
  4. Melakukan analisa sebab akibat
  5. Merencanakan penanggulangan
  6. Melaksanakan penangulangan
  7. Memeriksa hasil penanggulangan
  8. Standarisasi dan rencana berikutnya
Gugus Kendali Mutu GKM (Quality Control Cyrcle) merujuk siklus Deming meliputi Plan, Do, Check dan Act (PDCA). Update terbaru bahwa PDCA berubah menjadi PDSA (Plan, Do, Study dan Act).

Pengertian PDCA / PDSA:
  • Plan adalah meletakan kebutuhan sasaran dan proses untuk memberikan hasil sesuai spesifikasi
  • Do adalah implementasi proses
  • Check / Study adalah memantau dan mengevaluasi proses dan hasil terhadap sasaran dan spesifikasi dan melaporkan hasilnya
  • Act adalah tindak lanjut memastikan proses berikutnya lebih baik.
Lean Six Sigma menggunakan PDCA dalam aktivitas kaizen dan DMAIC / Define Measure Analyze Improve Control. Kaizen adalah perbaikan terus menerus sedangkan DMAIC adalah siklus kaizen atau siklus continuous improvement pada desain dan proses bisnis perusahaan berdasarkan performance data.

Target lean six sigma berupa continuous improvement cycle time, menghilangkan pemborosan di tempat kerja, menghilangkan varian output, kualitas stabil, improve yield, penyederhanaan situasi kerja, struktur penghematan biaya dan efektivitas organisasi bisnis.

Fishbone diagram merupakan salah satu dari 7 alat pengendali kualitas dengan cara kerja menggunakan hubungan sebab akibat dalam bentuk diagram tulang ikan / diagram Ishikawa.

Kategori penyebab utama disesuaikan obyek proses yang mempengaruhi dengan jumlah yang dapat ditentukan sesuai kebutuhan analisa.

Setiap kategori penyebab utama terdapat sub penyebab utama dengan asumsi analisa yang menjadi dasar timbulnya penyebab utama. Jumlah poin sub penyebab lebih banyak dari penyebab utama supaya mengakomodasi semua kemungkinan timbulnya penyebab utama.

Apakah fishbone diagram ini bisa mewakili terhadap tools QC lainnya? Apakah 7 tools harus dipakai semua untuk manajemen pengendalian kualitas? Apakah 8 Steps bisa diwakili juga dengan fishbone diagram ini?

Tools QC yang bertahan konsisten hanya fishbone diagram sementara tools lain tidak berlanjut. Checksheet berupa lembaran kertas pemeriksaan berakhir sebagai tumpukan arsip di departemen QC dan terkendala program penghematan kertas untuk menurunkan biaya administrasi. Hal ini menimbulkan kendala pada pengadaan lembaran kertas checksheet quality control.

Pareto diagram, histogram, control chart, scatter diagram dan stratification berakhir sebagai laporan presentasi meeting koordinasi antar departemen. Ketika meeting bubar, semua orang kembali ke pos masing - masing melanjutkan pekerjaannya dan "lupa" data tools QC yang telah disajikan.

8 steps perbaikan kualitas program QCC (Gugus Kendali Mutu) sepertinya hanya semangat di awal saja, banyak alasan menjauhi kegiatan GKM seperti sedang dikejar target, SDM kurang, tidak ada waktu dan alasan sejenis lainnya.

Fishbone diagram tetap digunakan sementara yang lain ditinggalkan. Dan faktanya seperti berikut ini:
  • Fishbone diagram bukan hanya diperlukan oleh departemen QC tetapi oleh departemen lainnya ketika menghadapi masalah dan mencari jalan keluarnya.
  • Fishbone diagram dipakai di lapangan, bukan di belakang meja meeting.
  • Fishbone diagram bisa menggunakan salah satu atau lebih tools QC lain ketika diperlukan.
  • Fishbone diagram tidak memerlukan data rumit. Karakteristik data dalam fishbone diagram adalah instan, bersumber pemikiran terkait dengan permasalahan dan hanya memerlukan waktu singkat untuk mengambil keputusan terhadap solusi permasalahan.
Catatan bahwa sejak masuknya revolusi industri jilid 4.0 semua proses memerlukan kecepatan tinggi, efisien dan efektif sesuai tuntutan proses bisnis perusahaan agar tetap bertahan.

3. Menerapkan Analisis SWOT dan Fishbone Diagram Secara Terpadu

Analisis SWOT akan menyempurnakan fishbone diagram baik ketika proses pengambilan keputusan solusi maupun setelah solusi di dapat dan menindak lanjuti agar tidak ada masalah sama terulang.

Penggunaan fishbone diagram bersifat global semua departemen dalam menyelesaikan suatu permasalahan secara cepat dan akurat.

Penerapan fishbone diagram di departemen produksi berupa analisa 6M untuk tujuan mengatasi masalah dalam proses produksi contohnya masalah output, reject dan sejenisnya.

Fishbone diagram analisa 6M sangat efektif untuk pemecahan masalah berdasarkan rumus sebab akibat dengan sumber peninjauan berasal dari unsur utama jalannya proses produksi yaitu Material, Machine, Methode, Man, Measurement dan Mother nature.

Contoh cara membuat analisis SWOT menyempurnakan proses dan hasil fishbone diagram:

Industri furniture PT. Seputar Pabrik Indonesia (samaran) sering terjadi finish goods terkena Fail oleh QC internal. Fail adalah temuan ketidaksesuaian berdasarkan standar kualitas. Jika terkena fail maka seluruh finish goods dibongkar dari packingnya untuk dilakukan pemeriksaan setiap komponen reject.

Contoh jenis reject furniture adalah scratch, peel off laminasi, peel off edging, laminasi keriput, dent, salah warna, salah bor, komponen hasil cutting kurang siku, crack, dirty, laminasi kulit jeruk, scoring, over trimming, sudut tajam, botak, touch up kurang rapi, grepes sisi komponen atau lubang bor, salah grooving, over sanding, over bufing, srapper edging, non covered edging, chipping dan bubble.

Berdasarkan data diketahui penyumbang reject terbesar berupa peel off laminasi yaitu lapisan PVC / paper kurang melekat sempurna terhadap panel kayu jenis MDF sehingga setelah beberapa hari sejak proses wrapping terdapat beberapa bagian laminasi mengelupas.

Berdasarkan fishbone diagram akhirnya disepakati bersama bahwa faktor mesin wrapping sebagai penyebab dari akibat laminasi kurang menempel sempurna di beberapa bagian komponen panel MDF.

Masalah : Peel off laminasi:
Penyebab Utama : Mesin
Sub penyebab: mesin wrapping tidak beroperasi sesuai standar
Tindakan : Perbaikan Maintenance

Dan ternyata setelah diperiksa Maintenance ditemukan ada error pembacaan temperature sehingga lem kurang mendapatkan pemanasan sesuai karakteristiknya.

Sampai disini masalah sebenarnya sudah terpecahkan.

Pertanyaannya adalah apakah dikemudian hari akan terjadi masalah sama di proses laminasi komponen berikutnya? Apakah operator mesin wrapping memahami error tersembunyi saat proses laminasi wrapping berjalan?

Sekarang mari kita gunakan analisis SWOT untuk menyempurnakan hasil yang telah diperoleh menggunakan fishbone diagram ini.

Tujuan dan target analisis SWOT: kualitas konsisten dan tidak ada reject berulang di mesin wrapping.

Strengths:
  • Speed proses mampu mencapai 30 meter per menit. Jika setiap komponen panjangnya 1 meter maka dalam 1 jam memiliki kapasitas produksi 1800 pcs. Sedangkan mesin laminasi hanya mampu mencapai speed 5 meter per menit. Saat ini menjadi tercepat di kelasnya.
  • Dirancang untuk dapat digunakan dengan lem tanpa kandungan air
  • Garansi mesin wrapping masih berjalan sehingga dapat mengajukan complaint jika terdapat kelemahan sistem instrumen. Agen penjualan mesin full support menangani after sales servis.
Weaknesses:
  • Error tidak terdefinisi alarm control instrumen Human Interface Modul mesin. Ketika error muncul tidak menghentikan jalannya operasi mesin wrapping. Posisi instrumen pembacaan temperature control terpisah dari mesin, letaknya di panel instrumen mesin sehingga ketika mesin sedang jalan sering kurang terawasi operator mesin wrapping.
  • Operator mesin tidak peka terhadap hasil sehingga reject yang terjadi tidak diketahui atau peel off laminasi ini baru terlihat setelah lem kering sehingga selama proses dianggap tidak ada reject.
Opportunities:
  • Mesin wrapping ini mampu memenuhi kebutuhan quantity output.
  • Perubahan desain mesin masih bisa dibuat agar meningkatkan kontrol operator mesin
  • Perbaikan masih gratis selama masa garansi
  • Pelanggan menghendaki proses menggunakan mesin wrapping ini ketika melakukan kunjungan karena dianggap paling unggul dan jika terjadi kendala bisa diterima secara bijak oleh pelanggan yang sudah sedikit mengetahui karakteristik mesin wrapping tersebut.
Threats:
  • Error tidak terlihat, operator mesin kurang peka kualitas produk, reject kurang terlihat karena delay waktu dan desain mesin kurang ergonomis akan menjadi threats pada timbulnya fail, reject berulang, rework, reproccessing dan kepercayaan pelanggan.
Kumbang Kutu Pada Industri Furniture Dan Cara Cepat Tuntas Mengatasinya

Kumbang Kutu Pada Industri Furniture Dan Cara Cepat Tuntas Mengatasinya

Kumbang kutu dari spesies baru keluarga kumbang pemakan kayu adalah sejenis serangga pemakan kayu baik kayu solid maupun kayu olahan dan menyebabkan kayu berlubang sehingga kumbang kutu merupakan masalah besar yang dihadapi pada industri furniture karena menyebabkan kerusakan bahan utama sampai produk jadi jika dimakan oleh kumbang kutu ini sehingga diperlukan cara sepat tuntas mengatasinya.

Ciri - ciri kumbang kutu:
  • Berwarna hitam gelap
  • Panjang sampai 6 mm
  • Tekstur persegi panjang, 2/3 badan dan 1/3 kepala
  • Membuat lubang pada kayu
  • Dapat berlari cepat seperti semut dan bisa terbang.
Sebenarnya terdapat banyak jenis kumbang dan hama selain kumbang kutu. Contohnya kumbang teter, kumbang penggerek, kumbang sesungut panjang, kumbang liang jarum, kumbang permata, kumbang liang bubuk, kumbang bambu, kumbang deathwatch, kumbang pengebor kayu, kumbang rumah tanduk panjang, kumbang steely blue, rayap dan lebah kayu.

Kita fokus pada kumbang kutu dan cara mengatasinya.

Diperlukan tindakan cepat untuk mengatasi gangguan kumbang kutu agar operasional plant terus berlanjut dan penangannya secara tuntas supaya menghindari kerugian di kemudian hari.

Cara cepat tuntas mengatasi kumbang kutu dan telah terbukti berhasil sampai tidak ditemukan seekor pun kumbang kutu berdasarkan pengalaman nyata di industri furniture:
  1. Identifikasi sumber penyebab kumbang kutu
  2. Fumigasi
  3. Perlindungan material
  4. Partisifasi semua karyawan

1. Identifikasi Sumber Penyebaran Kumbang Kutu

Pastikan bahwa kumbang kutu sudah diketahui sumber penyebarannya.

Ada 2 potensi sumber penyebaran kumbang kutu
  • Dari pemasok material
  • Lingkungan kondusif
Cara mencegah penyebaran dari pemasok material kayu dengan karantina material kayu saat baru tiba. Periksa lebih cermat apakah di material kayu tersebut terdapat binatang dimaksud. Jika ternyata benar ditemukan maka segera sterilkan material dan mengajukan complain kepada pemasok material.

Jika tidak ditemukan seekorpun kumbang kutu maka material kayu aman.

Perhatikan lingkungan kondusif penyebab penyebaran kumbang kutu. Kumbang kutu bisa terbawa oleh bahan kayu non material.

Contoh kasus di salah satu industri furniture di Tangerang dengan lingkungan pabrik luas terdapat banyak angsa dipelihara di area paling belakang pabrik. Kumbang kutu bisa terbawa kedalam pabrik dan bersembunyi dalam makanan angsa seperti dedak.

Oleh sebab itu sebaiknya jangan memelihara unggas dilingkungan pabrik furniture.

2. Fumigasi

Mustahil menangkap satu per satu kumbang kutu oleh tangan manusia karena jumlahnya ribuan ekor kumbang kutu. Paling bisa menangkap beberap ekor saja padahal perkembang - biakan kumbang kutu sangat cepat.

Fumigasi adalah metode pemberantasan hama dengan pengasapan (fogging) menggunakan pestisida atau insektisida.

Fumigasi merupakan cara paling efektif dibanding cara lainnya seperti penyuntikan insektisida kayu dan pelapisan kayu menggunakan bahan insektisida.

Fumigasi terbukti mengatasi wabah nyamuk, tikus dan kecoak. Tetapi metode fogging ini dapat dimanfaatkan untuk mengatasi wabah kumbang kutu secara cepat dan tepat.

Pilih layanan penyedia jasa fumigasi atau pest control terpercaya. Sampaikan bahwa tujuan fumigasi untuk mengatasi kumbang kutu sehingga bahan cairan insektisida sesuai tujuan fogging. Minta garansi bahwa hasil fumigasi efektif dan tidak ditemukan kumbang kutu seekorpun nantinya.

Pelaksanaan fogging diluar jam kerja atau pada hari libur Sabtu atau Minggu. Fogging yang dilakukan ketika jam kerja akan menggangu aktivitas kerja karyawan sehingga kurang disarankan dilakukan pada jam kerja.

Sasaran fogging:
  • Material particle board, kumbang kutu sangat menyukai serbuk kayu dalam bentuk padat, keras dan tidak lembab.
  • Material MDF dan HDF terutama yang telah terdapat lubang dari proses mesin bor, kumbang kutu kesulitan untuk memakan material MDF dan HDF tetapi dapat berkembang biak maupun bersembunyi didalam lubang material tersebut.
  • Material solid, sama seperti particle board sangat disukai kumbang kutu.
  • Area radius 20 meter termasuk gorong - gorong dan got karena kumbang kutu dapat terbang menghindari asap fogging.
Pohon dan tanaman disekitar area tidak perlu dilakukan fogging karena kumbang kutu tidak menyukai kayu yang masih hidup atau lembab kecuali kumbang penggerek kulit kayu.

3. Perlindungan Material

Sekitar 1 jam setelah dilakukan fogging, semua material kayu dilindungi dengan cara dibungkus menggunakan strech film. Kumbang kutu tidak mampu menembus lapisan strech film ini sehingga material terlindungi.

Strech film sifatnya transparan sehingga dapat dilihat apakah material kayu masih terdapat kumbang kutu hidup karena saat dibungkus strech film kumbang kutu tersebut sebenarnya sudah berada didalam material.

Strech film dapat dilepas ketika proses komponen kayu dilanjutkan dan dibungkus lagi strech film saat menjadi WIP.

4. Partisipasi Semua Karyawan

Ketika fogging dan perlindungan material kayu sudah dilakukan maka semua karyawan turut berpartisipasi melakukan pemeriksaan terhadap keberadaan kumbang kutu sambil melakukan aktivitas kerjanya.

Hal ini antisipasi jika hasil fogging belum tuntas masih menyisakan kumbang kutu bersembunyi. Segera laporkan ke PIC biasanya GA untuk dilakukan fogging ulang atas temuan baru adanya kumbang kutu.

Memastikan Kualitas Solar Industri Sesuai Standar Setiap Penerimaan

Langkah ini tentang cara memastikan kualitas solar industri sesuai standar pada setiap pengiriman dari distributor untuk pabrik yang menggunakan solar industri dalam aktivitas kerjanya. Pemakaian solar industri berkualitas tinggi akan membuat life time dan kinerja peralatan lebih baik serta tidak merusak spare part pabrik di peralatan tersebut. Juga akan membuat efisiensi pemakaian menjadi tinggi sehingga akan mengurangi pemborosan biaya dengan pemakaian solar industri kualitas tinggi ini.

Alur penerimaan solar industri di plant seperti disampaikan pada artikel sebelumnya tentang memastikan volume solar industri yang pertama dipastikan adalah volumenya. QC incoming material memiliki kewenangan pertama untuk memastikannya dan selanjutnya kesesuaian volume solar industri akan dipastikan kembali oleh inventory dan GA melalui team security.

Agar bisa menentukan bahwa kualitas solar industri yang diterima dalam kondisi baik atau tidak tentunya harus mengetahui terlebih dulu standar kualitas solar industri secara umum. Dari sana dapat dijadikan pembanding dengan solar industri yang diterima tersebut.

Standar Kualitas Solar Industri

Perhatikan nilai parameter yang tertera pada kolom requirement gas oil disana terdapat batasan minimal dan maksimal parameter hasil uji solar industri. Patokan standar kualitas solar akan berada diantara batas minimal dan maksimal. Solar industri bisa disebut juga dengan nama lain seperti gas oil, automotive diesel oil atau HSD (High Speed Diesel). Namun kebanyakan orang menyebut dengan nama solar.

Contoh: berapa prosentase kandungan sulfur yang baik untuk standar kualitas solar industri?. Pada tabel standar kualitas solar industri disebutkan bahwa kandungan sulfur dalam solar industri tidak boleh melebihi batas 0,3%. Lalu apa dampaknya jika kita memaksakan diri mengunakan solar industri yang ternyata kandungan sulfurnya melebihi batas 0,3%?

kualitas solar
Penggunaan solar industri di dalam pabrik umumnya untuk operasional alat berat. Pada pemakaian bahan bakar solar dengan kandungan sulfur cukup tinggi menyebabkan filter solar (fuel filter) lebih cepat mampet dan kotor sebelum jatuh waktu predictive maintenance peralatan tersebut. Pada perawatan excavator penggantian filter solar pada setiap 500 hour meter.

Tetapi karena bahan bakar solar industri yang dipakai memiliki kandungan sulfur di atas 0,3% maka sulfur akan memendekan life time filter solar sehingga bisa terjadi ketika baru 100 hour meter filter solar sudah mampet / kotor tanpa diketahui petugas maintenance, apa lagi jika filter solar yang digunakan bukan sparepart yang direkomendasikan.

Kerusakan ini akan berantai pada sistem pompa bahan bakar yang akan bekerja ekstra akibat suplai solar yang tersumbat dan berujung pada kerusakan injector. Jika hal ini terjadi sudah pasti akan memakan biaya perbaikan yang sangat besar.

Ini hanya salah satu contoh dampak buruk apa bila kita memaksakan diri dalam menggunakan solar industri diluar standar kualitas. Selanjutnya adalah langkah tindakan apa yang harus diambil plant dalam rangka memastikan kualitas solar industri yang diterima ini.

Berikut tindakan untuk memastikan mutu solar industri sesuai standar setiap penerimaan
  1. Pemeriksaan dokumen MSDS
  2. Uji Laboratorium
  3. Cek visual
1. Pemeriksaan dokumen MSDS

Purchasing harus meminta dokumen MSDS (Material Safety Data Sheet) dari distributor solar industri sebagai kelengkapan dokumen barang yang dijualnya. Distributor solar industri pemenang tender bisa saja adalah perusahaan swasta diluar Pertamina atau distributor swasta yang menginduk ke Pertamina.

Mengacu dengan SOP penerimaan BBM solar yang berlaku maka QC incoming material memeriksa dengan cermat poin yang terkandung di dalam MSDS kualitas solar industri dari distributor solar industri seperti ukuran berat jenis solar industri dan parameter dalam kandungan solar yang lainnya. Sebagai pembanding terhadap kesesuaian ini bisa dengan membandingkan MSDS solar Pertamina.

Sudah tentu pemeriksaan dokumen MSDS solar industri tidak cukup untuk menjamin kualitas solar industri yang diterima. Ini hanya sebagai syarat awal yang diajukan user kepada para pemasok dalam hal kelengkapan dokumen barang yang dijual pemasok. Tetapi arsip MSDS solar industri akan berguna bagi suatu pabrik ketika ada audit mutu, keselamatan dan kesehatat kerja, audit proper dari KLHK dan dalam upaya pemenangan tender pertambangan / migas.

2. Uji Laboratorium

Pengujian kualitas solar industri dilakukan di laboratorium di badan pengujian tertentu misalnya di S********.
Pastinya data hasil dari uji lab ini akan berbicara banyak tentang kondisi solar industri yang sedang digunakan. Tetapi untuk mendapatkan data ini tidak gratis, perusahaan harus mengeluarkan budget untuk mendapatkan report analisys dari badan penguji ini.

Kecuali perusahaan mau membayar biaya setiap kali dilakukan pengujian solar industri di lab, sebenarnya ada beberapa cara agar kita mendapatkan report analisis gratisan. Penjelasannya sebagai berikut:

Cara 1:
Pabrik yang memiliki sejumlah alat berat dengan merk seperti C********** biasanya distributor resmi mereka menyediakan sparepart original yang diperlukan sesuai part numbernya. Dan mereka juga berusaha menawarkan pembelian unit baru untuk menambah operasional di pabrik. Kondisi kondusif seperti ini bisa dinegokan dengan meminta pihak mereka melakukan uji solar industri yang digunakan pada alat berat merk mereka.

Trik penyampaiannya salah satunya bisa seperti ini (bisa lisan atau tulisan melalui email):

"Dear **** distributor resmi merk ****,
Kami telah menggunakan fuel filter part number 123456 untuk excavator **** dengan interval penggantian setiap 500 hour meter. Namun pada kenyataannya fuel filter sudah kotor pada hour meter 100, yang dilakukan pengecekan terkait adanya kondisi lost power pada unit ini. Dengan ini kami sebagai konsumen berhak mendapatkan perlindungan konsumen dengan mengajukan komplain terhadap sparepart ini atau kami mempersilakan pihak Anda melakukan pemeriksaan lebih lanjut termasuk pada uji lab solar industri yang digunakan."

Catatan bahwa ini bukan memberi contoh sesuatu yang tidak benar tetapi lebih menekankan kepada kepedulian pemasok alat berat ini. Tetapi cara ini tidak bisa dilakukan rutin karena pasti pihak mereka akan berfikir lain dalam menyikapinya.

Cara 2:
Ketika purchasing berhasil mendapatkan pemasok solar industri terpilih, ajukan syarat khusus agar penawaran order kandidat pemasok dapat diproses lebih lanjut menjadi purchase order. Syarat tersebut yaitu:

"untuk keperluan memastikan kualitas solar yang baik seperti yang dijanjikan pemasok maka harus ada report analisis kandungan solar yang dikirimkan. Report analisi tidak dibuatkan dari pemasok tetapi akan ditindak lanjuti  oleh user ke badan penguji dengan sample solar industri dari pemasok yang biayanya dibebankan kepada pemasok."

Jadi pemasok solar industri memberikan biaya untuk pengujian tetapi yang tindak lanjutnya adalah user. Report analisi tidak disarankan dari pemasok terkait mencegah kemungkinan adanya "permainan" dengan badan penguji.

Hasil uji lab ini masih belum bisa membuktikan kualitas solar industri sepenuhnya baik. Uji lab hanya berdasarkan sample solar industri yang mungkin diambil di ritase pengiriman pertama. Kita tidak tahu ritase berikutnya sesuai permintaan pengiriman dari user apakah kualitas solar industri masih baik atau tidak.

Kita bisa melakukan perhitungan tertentu dengan solar industri ini untuk pembanding seperti perhitungan berat jenis solar atau massa jenis solar. Cara menghitung berat jenis solar ini telah diulas di artikel sebelumnya tentang bagaimana memastikan kesesuaian volume solar industri.

3. Cek Visual

Setelah langkah 1 dan langkah 2 diterapkan berikutnya lengkapi dengan langkah 3 pemeriksaan visual setiap kali ada pengiriman solar industri oleh QC incoming material. Petugas yang memeriksa harus sudah paham dan memiliki "feel" terhadap visual solar industri berkualitas.

Cek visual kedudukannya penting untuk mengontrol kinerja distributor dan mencegahnya dari penyelewengan terhadap perubahan kualitas solar industri. Kita tidak mengharapkan solar industri yang kita terima pada mulanya bagus tetapi berikutnya under spec.

Seperti misalnya distributor mengirimkan solar dengan kandungan sulfur di atas 0,3% karena harga solar industri yang memiliki kandungan sulfur tinggi lebih murah. Ini terjadi dari proses pembuatan solar yang menghilangkan beberapa tahapan proses pemurnian sulfur sehingga ongkos produksinya menjadi murah.

Atau bisa juga pada saat pengiriman diperjalanan tercampur air hujan yang meresap masuk melalui celah main hole tangki solar. Atau ada kecurangan dengan menambahkan air sehingga volume solar murninya berkurang. Hal - hal seperti ini memang sebenarnya harus diwaspadai. Tolak pengiriman solar yang tidak berkualitas karena dari segi hukum hal ini sudah kuat karena mengacu pada Surat Keputusan Dirjen Migas Kementrian ESDM No. 3675 K/24/DJM/2006 tentang regulasi mutu solar yang dipasarkan.

Cek visual intinya pada mencegah kualitas solar industri menurun akibat kandungan sulfur, debu dan air yang tinggi. Ketiga komponen ini menyebabkan perubahan pada visual dan densitas solar industri seperti contohnya HSD berbusa akibat kandungan sulfur tinggi atau tercampur debu dan air.

jadi, standar visual solar industri:

Warna solar industri berkualitas atau warna solar yang bagus adalah orange tua
Bagian dasar solar industri tidak tampak adanya endapan
Bagian atas tidak berbusa walaupun setelah diaduk
Secara keseluruhan visual adalah bening dan tetap akan bening walapun disimpan lama. Ini pertanda kandungan sulfur rendah.

Tips Jitu Dalam Mempertahankan Mutu

Tips jitu mengatasi masalah besar proses produksi dalam mempertahankan mutu dengan cara menciptakan antusiasme membuat produk terbaik dan melibatkan semua karyawan di bagiannya, membangun mutu sejak awal proses produksi, memahamkan bahwa mutu tidak bisa dibeli uang tetapi mutu harus diperjuangkan, mengadakan pelatihan pemahaman dan penerapan mutu, membuat pengendalian mutu tingkat pengawas dan menerapkan standar mutu

1. Ciptakan antusiasme membuat produk terbaik dan melibatkan semua karyawan di bagiannya

Syarat produk laku di pasaran adalah produk tersebut terbaik diantara sesama jenis produk tersebut tetapi harga relatif sama atau harga sedikit di atas harga produk biasa saja. Persepsi pasar mengenai produk terbaik yaitu berdasarkan kualitasnya dan popularitasnya terhadap brand produk tersebut.

Ketika produk adalah produk biasa saja, suatu saat pabrik penghasil produk ini akan gulung tikar karena kalah bersaing di pasaran. Jika sampai terjadi mimpi buruk ini berdampak pada kehilangan pekerjaan semua orang di pabrik.

Nah menurut Anda siapakah yang terlibat pembuatan produk biasa saja atau membuat produk terbaik ini?

tips jitu mempertahankan mutu

Jawabannya adalah semua orang di pabrik ikut andil, baik karyawan maupun manajemen pabrik. Jadi semua orang bertanggung jawab membuat produk terbaik di bagiannya masing - masing dan dilarang membuat produk biasa saja atau menghasilkan produk cacat mutu.

Selanjutnya segera ciptakan stabilitas semangat membuat produk terbaik dan penuh tanggung jawab ketika menjaga mutu produk setiap tahapan proses pembuatan mulai bahan baku sampai menjadi barang jadi. Ingatkan bahwa pabrik adalah sawah ladang kita, harus dijaga dan dipelihara supaya bisa memberikan nafkah secara terus menerus guna menjalani kehidupan.

2. Bangun mutu sejak awal proses produksi

Pepatah mengatakan "pencegahan lebih baik dari pada pengobatan", artinya kurang lebih sebelum segala sesuatunya menjadi lebih buruk maka lebih baik dilakukan tindakan pencegahan di awal. Begitu juga proses produksi, sebelum terjadi cacat mutu misalnya akibat jenis material kurang memenuhi standar sehingga menimbulkan cacat mutu di akhir proses, maka lebih baik dilakukan tindakan pencegahan awal proses saat pemilihan dan pemakaian bahan baku.

Contoh simulasi
Mari kita hitung berapa nilai kerugian saat ditemukan cacat mutu di akhir proses produksi.

Diketahui :
Total FG (Finish Goods) 1000 pcs
Cacat mutu 20% akibat bintik material kurang sesuai
Time base produk 2 jam
Tenaga Kerja 10 orang
Berapa kehilangan jam kerja untuk kerja ulang? Berapa nilai kerugian total?

Jumlah cacat mutu = 200 pcs
Time base total = 200 pcs x 2 jam = 400 jam
Time base tenaga kerja = 400 jam / 10 orang = 40 jam / 8 = 5 hari kerja

Jadi waktu kerja ulang diperlukan 5 hari kerja berikut tenaga kerja 10 orang, diluar biaya utility dan kerugian aspek bisnis.

Bayangkan jika saja saat awal sudah dilakukan tindakan pencegahan terhadap munculnya cacat mutu ini maka biaya diatas tidak ada. Salah satu kemungkinan terjadinya lolos di awal proses berupa sikap ketergantungan pada pemeriksaan di pertengahan proses, menganggap bahwa nanti juga akan ditemukan cacat mutu ini saat di pertengahan proses sehingga si operator sengaja membiarkannya di awal tersebut dan lalai dalam pemeriksaannya. Sikap ini perlu dirubah, jangan tergantung inspeksi dipertengahan proses walaupun ada team QC sekalipun di pertengahan proses.

3. Mutu tidak bisa dibeli uang tetapi mutu harus diperjuangkan

Ok, lanjut cerita penemuan cacat mutu di atas. Jumlah cacat mutu sebanyak 200 pcs ini bukan berarti produk tersebut terbuang, hanya ada kendala pada material sehingga menimbukan cacat visual produk. Manajemen pabrik bisa saja memutuskan produk cacat mutu tersebut dijual ke karyawan pabrik atau dilepas ke pasaran secara harga miring.

Karyawan pabrik pasti sangat senang hati akan membelinya melihat potongan harga yang biasanya fantastik disamping pembayarannya dapat di cicil melalui potong gaji. Pasaran pun pasti banyak membeli, istilahnya barang kw2 atau "sedang cuci gudang" tetapi berlaku di pasar under ground, tetapi konsumen utama pastinya tidak mau membeli produk cacat mutu ini bahkan akan menuntut balik melalui alasan perlindungan konsumen.

Jadi benarkah keputusan manajemen pabrik ini untuk "menguangkan" produk cacat mutu tadi? Tentu ini keputusan sangat kurang tepat karena jangka panjang akan kehilangan citra produk ini dan konsumen akan beralih mencari produsen lain yang lebih bisa menjamin mutu produknya.

Pada situasi kasus berbeda, ketika produk dikirimkan ke konsumen utama dan ditemukan 200 pcs produk cacat mutu tadi, apa yang akan dilakukan konsumen utama selanjutnya?

Ya, mereka akan memberikan penalty berupa replacement barang dengan harga satuannya bisa 2 - 5 kali dari harga normal, pengembalian semua barang sampai pemutusan kontrak order.

Pada kondisi situasi seperti ini biasanya Sales mencoba negosiasi menggunakan senjata andalan berupa potongan harga bagi produk cacat mutu ini. Tetapi ingat bahwa mutu tidak bisa dibeli uang, sehingga negosiasi seperti itu jarang berhasil. Keputusan akhir paling sering terjadi adalah replacement tetapi harga tinggi di atas rata - rata harga jual produk.

4. Pelatihan pemahaman dan penerapan mutu

Masalahnya kembali ke pelaku, ketika pemahaman mutu belum tertanam baik di pemikiran operator, sangat mungkin sekali kejadian sama terulang terus menerus sehingga menimbulkan akumulasi kerugian sangat besar sampai terancam kehilangan konsumen.

Stop! segera ambil tindakan.

Membuka wawasan adalah melalui pelatihan. Buat rencana supaya memahamkan mutu kepada semua lini produksi. Informasikan bahwa mutu bisa dipertahankan dan alat mempertahankan mutu sudah ada. Pahamkan ilustrasi pembuatan produk terbaik adalah tanggung jawab bersama.

Pelatihan mutu diselenggarakan oleh HR bekerja sama dengan konsultan perbaikan kualitas dari luar pabrik atau melalui internal training dengan nara sumber dari manajemen pabrik.

5. Pengendalian mutu tingkat pengawas

Terlepas dari pemahaman mutu ke setiap karyawan pabrik melalui pelatihan mutu, tetap harus ada yang mengawasi standar mutu setiap alur proses, karena bukan tidak mungkin saat melakukan pekerjaan, karyawan terlalu terfokus pekerjaannya sehingga cenderung terabaikan mempertahankan mutu ketika proses berlangsung. Disini tugas supervisor harus mengawasi standar mutu tetap berjalan melalui cara pemeriksaan mutu menggunakan 7 alat pengendalian mutu QC.

6. Standar mutu

Standar mutu ditetapkan mengikuti aturan baku melingkupi desain, bentuk, tekstur, ketahanan, kenyamanan dan keamanan bagi pengguna akhir. Suatu produk dianggap memiliki mutu apabila sesuai standar mutu contohnya SNI (Standar Nasional Indonesia).

Konsumen akan menilai apakah barang sudah sesuai standar tersebut atau belum disamping penyesuaian standar mutu versi konsumen sendiri yang sifatnya dinamis dalam rangka penyempurnaan mutu lebih baik dengan biaya murah. Dalam penyusunan parameter standar mutu versi konsumen ini diperlukan kemampuan analisa teknik tentang potensi resiko jika salah proses atau salah seting mesin.

Ambil contohnya, produk hasil gilingan mesin shredder pabrik pengolahan limbah B3 hasilnya harus mengikuti ukuran sesuai sehingga parameter teknik setting pisau shredder harus akurat.

Catatan
Manajemen pabrik membuat iklim terciptanya suasana dingin di seputar pabrik agar setiap orang dapat bekerja efektif. Jangan biarkan karyawan dibebani perasan takut saat bekerja seperti takut salah proses, takut status kontrak berakhir dan takut ditegur atasan. Semakin besar perasaan takut maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya cacat mutu. Bersihkan rasa takut sehingga setiap orang bekerja efektif.

Termasuk juga ciptakan komunikasi internal antar departemen agar tidak kaku dengan batasan status kepegawaian apalagi zaman sekarang komunikasi dapat dilakukan jarak jauh memakai media sosial sehingga aliran informasi dapat ditangkap segera secara bersamaan.

Ada kalanya manager produksi saking diburu target sehingga mengambil cara dengan membuat slogan - slogan untuk mempercepat proses tetapi lupa dalam mempertahankan mutu. Sebaiknya jangan melakukan itu kecuali sudah dilengkapi dengan cara - cara mencapainya. Operator pun tidak disarankan untuk di cap dengan angka target karena mereka bukannya jadi efektif malah menjadi mundur dalam produktivitasnya.

Gantilah cap angka target ini dengan sesuatu lebih baik seperti memberikan motivasi kerja atau konsultasi 4 mata bersama atasannya. Hindari terbentuknya jarak bagi pekerja kontrak dengan pekerja tetap agar tim selalu kompak mempertahankan mutu produk dan pekerja kontrak bisa merasakan kebanggaannya atas kemampuan kerjanya.