Bagaimana Menerapkan Autonomous Maintenance di Pabrik

Mungkin banyak beranggapan bahwa menerapkan autonomous maintenance adalah mudah sekali sebagai tambahan pekerjaan operator produksi, tidak akan mengalami kesulitan besar karena mengira bahwa autonomous maintenance hanyalah sebuah pekerjaan sederhana seperti membersihkan, melumasi serta mengencangkan mesin padahal kenyataannya menerapkan autonomous maintenance tidak seperti membalikan telapak tangan maka bagaimana sebenarnya cara agar bisa menerapkan autonomous maintenance di Pabrik dapat berhasil seperti harapan?

Sedikit membuka pengalaman penulis saat diajak pertemuan membahas serta merumuskan poin pemeriksaan autonomous maintenance agar menjadi sebuah form, tetapi pada hari itu pembahasan form autonomous maintenance sebenarnya belum selesai karena masih ada pertimbangan pelaksanaan jangka panjang.

Tanpa diduga, besoknya form tersebut diserahkan ke produksi dan langsung dijalankan operator karena beranggapan bahwa poin pada form autonomous maintenance sangat mudah dilakukan oleh pekerja baru sekalipun. Mereka tinggal memberikan sedikit penekanan ke pengawas supaya mengharuskan form tersebut bisa dilaksanakan oleh setiap operator mesin produksi.

Dalam beberapa hari pelaksanaan autonomous maintenance berjalan normal tetapi setelah itu mandeg serta kualitas hasil pelaksanaannya jauh dibawah standar seperti terlihat masih adanya kotoran menempel di mesin padahal sudah dilakukan autonomous maintenance.

Apa masalah sebenarnya sehingga program autonomous maintenance "sederhana" tersebut gagal diterapkan secara terus menerus?

bagaimana menerapkan autonomous maintenance di pabrik

Tidak segampang membalikan telapak tangan, ada beberapa poin agar program autonomous maintenance berjalan lancar serta konsisten.

Berikut cara menerapkan autonomous maintenance di pabrik

1. Komitmen manajemen puncak

Adanya ide penerapan autonomous maintenance datang dari manajemen, low manajemen sampai top manajemen dilatar belakangi asumsi mencari cara meningkatkan produktivitas sehingga menaikan profit perusahaan.

Manajemen puncak harus yakin terlebih dulu serta konsisten menerapkan program autonomous maintenance berikut mengetahui resiko biayanya seperti biaya pembelian peralatan kebersihan, peralatan kerja selain biaya lainnya saat autonomous maintenance berjalan.

Termasuk juga biaya pelatihan penerapan autonomous maintenance atau biaya konsultan penerapan autonomous maintenance. Dalam jangka panjang, semua pengeluaran biaya ini akan berbalik menjadi profit perusahaan misalnya bertambahnya kepercayaan pelanggan.

2. Team sukses penerapan autonomous maintenance

Manajemen selanjutnya membentuk sebuah team sukses penerapan autonomous maintenance terdiri dari produksi dan maintenance atau bisa ditambahkan dari divisi lainnya. Team ini harus memahami tentang autonomous maintenance terutama cara penerapannya dilapangan. Jika belum ada satupun dari team memahami autonomous maintenance secara teori maupun praktek maka manajemen berkewajiban menyekolahkan team ini terlebih dulu.

Selanjutnya team sukses penerapan autonomous maintenance membuat presentasi di depan manajemen tentang rencana penerapan autonomous maintenance sampai goal. Team ini tidak boleh membubarkan diri, harus tetap ada selama program autonomous maintenance dijalankan. Sudah tentu team ini dibebas tugaskan dari pekerjaan utamanya.

3. Pilot Project

Team membentuk satu group autonomous maintenance sebagai pilot project. SDM mesin pilot project diberikan bekal pemahaman autonomous maintenance sampai benar - benar memahami.

Pemahaman praktek cara melakukan pembersihan, pelumasan berikut pengencangan mesin pilot project. Team melakukan time study berapa lama waktu melakukan pembersihan, pelumasan dan pengencangan. Hasil pengamatan ini selanjutnya dibuat menjadi sebuah standar autonomous maintenance mesin pilot project.

Akan terjadi perbedaan interval antara pembersihan setiap hari, pelumasan setiap minggu dan pengencangan setiap bulan. Team juga memberikan pemahaman teknis tentang peralatan - peralatan mesin, baik fungsinya ataupun cara kerja masing - masin peralatan tersebut.

Setelah semuanya dipahami oleh operator, team merencanakan kick off autonomous maintenance pada mesin pilot project, sudah tentu semua peralatan baik peralatan pembersihan, peralatan pelumasan maupun peralatan pengencangan sudah tersedia.

Team melakukan pemantauan selama sebulan melihat apakah ada kekurangan atau hambatan pelaksanaan autonomous maintenance sambil mempersiapkan project autonomous maintenance di luar pilot project.

4. Disiplin dan semangat dalam penerapannya

Kunci keberhasilan autonomous maintenance terdapat pada pelaksana dilapangan yaitu operator mesin bersangkutan berikut beberapa orang yang membantu operator. Disipin serta semangat mereka dalam melaksanakan autonomous maintenance harus tetap terpelihara secara konsisten

Manajemen tidak ada salahnya membuat suatu perlombaan keberhasilan autonomous maintenance berhadiah disesuaikan anggaran
Team sukses penerapan autonomous maintenance selalu mendorong sertamenciptakan ide baru bagi perbaikan pada pelaksanaan autonomous maintenance.

Bagian administrasi produksi memberikan bantuan dalam bentuk penyediaan form autonomous maintenance serta arsip dokumentasi pelaksanaannya.

Pada titik tertentu mungkin ada sebagian kecil unit mengalami kejenuhan pelaksanaan autonomous maintenance. Manajemen segera tanggap berupa memberikan pengarahaan atau melakukan rotasi tenaga kerja jika terpaksa sekali guna menjaga semangat team tetap terpelihara baik untuk pelaksanaan kerja maupun pelaksanaan autonomous maintenance.

5. Group Kecil TPM (GKTPM)

Setelah pilot project berhasil dalam menerapkan autonomous maintenance, maka selanjutnya serempak dibuat group masing - masing unit mesin lainnya mengikuti contoh proses dan hasil penerapan autonomous maintenance pilot project dan group tersebut diberi nama GKTPM (Group Kecil Total Productive Maintenance).

Team akan memberikan sosialisasi dan pemahaman ke setiap GKTPM berikut mengevaluasi proses maupun hasil masing - masing GKTPM

6. Standarisasi dan perbaikan terus menerus

Perlu dibuat standarisasi pencapaian hasil sehingga tetap terlihat sampai sejauh mana kinerja saat ini. Standarisasi dapat berupa sejumlah pertanyaan pada suatu survey, daftar pemeriksaan hasil dan parameter yang didapatkan saat ini atau bisa dalam bentuk dokumentasi.

Standarisasi akan menjadi barometer perbaikan selanjutnya sehingga seiring berjalannya waktu, autonomous maintenance menjadi lebih sempurna. Perbaikan - perbaikan terus dilakukan pada kekurangan atau ketidak sesuaian proses penerapan autonomous maintenance.

Kesimpulannya bagaimana menerapkan autonomous maintenance di dalam pabrik sehingga berjalan lancar dan mendapatkan hasil maka harus mengikuti 6 langkah di atas. Dan hal ini sudah terbukti dapat berjalan di salah satu pabrik automotive tempat penulis bekerja dulu.

0 Comments