Implementasi TPM Pilar 3 Quality Maintenance Untuk Mengatasi Reject Berulang

Implementasi TPM pilar 3 adalah bagaimana quality maintenance mampu untuk membuat mesin produksi menghasilkan produk tanpa reject ketika proses produksi berlangsung dan mampu mengatasi reject berulang terkait setiap komponen penyusun mesin produksi mempunyai umur pakainya yang mempengaruhi proses dan hasil produksi berikut setiap operator mesin mampu memahami spesifikasi dan parameter seting mesin sehingga memahami pula setiap terjadi kejanggalan mesin produksi sekecil apapun.

Poin penting sebelum menerapkan TPM pilar 3 quality maintenance saling terkait bersama dua pilar TPM sebelumnya yaitu autonomous maintenance dan perawatan terencana. Kedua pilar ini mendorong operator maintenance dan produksi proaktif melakukan pemeriksaan kondisi mesin sehingga memungkinkan segera ditemukannya ketidak normalan mesin penyebab cacat mutu produk.

Pada setiap masalah dalam alur proses produksi seperti kemacetan proses atau mutu produk rendah kita dapat mengambil pemecahannya menggunakan analisa 6M supaya tereliminasi sumber masalah sebenarnya. Termasuk ketika menentukan masalah quality maintenance, maka kerusakan produk terlebih dulu dianalisa sumber penyebabnya.

Jika ternyata mesin produksi menjadi sumber penyakitnya dan bukan dari lainnya maka disinilah letaknya masalah quality maintenance dimaksud.

Sumber penyebabnya mesin = masalah quality maintenance

Berikut contoh quality maintenance pada beberapa permasalahan proses produksi versi seputarpabrikcom.
  1. Gangguan fungsi sensor mesin produksi dari luar peralatannya
  2. Gangguan fungsi sensor mesin produksi dari dalam peralatannya sendiri
  3. Komponen kurang lengkap
  4. Spare part sudah aus
  5. Kegagalan fungsi sistem mekanik
  6. Pemakaian melebihi kapasitas mesin produksi
TPM pilar 3 quality maintenance

1. Gangguan fungsi sensor mesin produksi dari luar peralatannya

Seperangkat mesin produksi automatis meliputi banyak komponen penyusunnya contohnya sensor berfungsi sebagai input perintah operasi mesin. Sensor ini memberikan sinyal ke PLC agar memerintahkan output tertentu harus berfungsi.

Contoh quality maintenance pada masalah ini seperti pada suatu mesin sliting, mesin penggulung plastik lembaran, dalam industri lembaran plastik film jenis poly propilene, ketika produk plastik bergerak menuju ke roll mesin sliting mulai masuk dan terdeteksi oleh foto sensor maka produk tersebut akan segera digulung oleh mesin sliting.

Berbeda kejadiannya ketika foto sensor terpasang di mesin sliting kurang mampu mendeteksi produk plastik, roll sliting bisa tetap diam menyebabkan plastik menumpuk di depan roll sliting dan menjadi reject. Dari hasil perbaikan operator maintenance ternyata ditemukan bahwa permukaan sensor tertutupi debu serta kotoran.

Bisa dibayangkan hanya gara - gara debu dan kotoran bisa mengakibatkan kerugian perusahaan berbentuk cacat mutu produk. Debu dan kotoran dapat mempengaruhi fungsi kerja sensor, bahkan debu dan kotoran ini dianggap sebagai sumber hubungan singkat instalasi listrik pabrik penyebab kebakaran pabrik dan sumber kerusakan sistem hydraulic pneumatic mesin produksi.

Dalam mengatasi rendahnya quality maintenance di atas, maka harus digiatkan adalah aktivitas autonomous maintenance dan perawatan harian terencana. Sudahkah kedua kegiatan ini dijalankan konsisten oleh kedua departemen? Barangkali jawabannya sudah dijalankan tetapi belum maksimal.

2. Gangguan fungsi sensor mesin produksi dari dalam peralatannya sendiri

Sensor adalah alat untuk mendeteksi adanya perubahan fisika atau kimia. Kategori sensor untuk industri diantaranya sensor proximity, sensor magnet, foto sensor, sensor ultra sonik, sensor tekanan, sensor kecepatan, encoder dan sensor panas. Sensor ini memberikan masukan pada tranducer untuk memerintahkan ouput bekerja atau memberikan masukan ke input PLC mengeluarkan intruksi selanjutnya terhadap output tertentu.

Disebutkan di atas bahwa debu dan kotoran bisa menyebabkan kegagalan fungsi sensor dan menyebabkan masalah quality maintenance. Sebenarnya sensor bisa mengalami kegagalan fungsi disebabkan oleh peralatannya sendiri.

Seperangkat peralatan sensor mencakup sensor, tranducer dan kabel sensor. Faktor penyebab kerusakan diantaranya karena umur pemakaian, terbentur atau bergesekan, korosif, tikus dan short body. Pendeteksian kerusakan paling gampang adalah ketika aparatus sensor mengalami kerusakan fisik fatal seperti kabel sensor putus, sehingga perbaikannya dapat segera dilakukan.

Lain halnya ketika kerusakannya sederhana misalnya kabel terkelupas, kepala sensor korosif dan sejenisnya, dampaknya adalah hasil pembacaan tidak akurat. Inilah yang dikhawatirkan terjadi karena proses produksi terus berlangsung dengan parameter pembacaan seting kurang akurat berakibat timbulnya cacat mutu produk.

Tindakan antisipasi adanya instrumen mesin kurang akurat bisa melalui kalibrasi alat secara periodik. Kalibrasi adalah proses pengaturan atau pemeriksaan akurasi transducer melalui cara membandingkannya dengan transducer / alat ukur standar. Alat ukur terkalibrasi akan ditempel label "telah dikalibrasi... kalibrasi berikutnya..."

3. Komponen kurang lengkap

Maksud pernyataan di atas adalah komponen bagian mesin produksi kurang lengkap sebagai salah satu tahapan proses produksi di mesin tersebut. Lebih jelasnya dengan ilustrasi seperti berikut ini. Saya ambil di industri paling banyak menghasilkan reject berdasarkan pengalaman saya. Saya bawa masuk ke industri pengolahan kayu jenis particle board untuk dijadikan produk furniture.

Awal proses produksi ketika lembaran particle board yang telah dilaminasi PVC kedua permukaannya disiapkan menuju proses potong sesuai ukuran di mesin potong automatis. Beberapa lembar particle board ditaruh di meja potong dan dilakukan penyikuan dengan menggeser lembaran particle board tepat pada stoper siku mesin potong. Selanjutnya start proses potong automatis mengikuti ukuran potong sesuai programnya.

Hasil pemotongan lembaran particle board ditemukan banyak scratch atau baret salah satu permukaannya, tepatnya di bagian permukaan bawah. Setelah dipilah, hasil potong scratch terjadi disisi lembaran particle board di lapisan paling bawah, lapisan kedua sampai lapisan paling atas tidak ditemukan scratch. Selidik lebih lanjut, scratch terjadi karena adanya gesekan antara lembaran particle board paling bawah dengan meja tempat pemotongan, padahal meja tersebut sudah dilengkapi blower angin dari arah dalam meja menuju bagian atas melewati pori - pori meja untuk meringankan penggeseran bahan karena ditunjang oleh tiupan angin blower.

Ternyata, penutup pori - pori meja berbentuk kelereng baja ukuran kecil, sudah banyak hilang akibatnya tiupan angin blower terbuang bebas sia - sia dan kurang sanggup mengangkat bahan lembaran particle board saat digeser sehingga terjadi gesekan bahan dengan permukaan meja. Akibat komponen ini tidak lengkap pada suatu bagian tahapan proses mesin menjadikan cacat mutu.

4. Sparepart sudah aus

Predictive maintenance mensyaratkan perawatan mesin produksi setiap bagian peralatan mesin dilakukan analisa terhadap umur pemakaian alat. Misalnya bearing motor mixing memiliki umur pakai 10000 jam maka saat jatuh tempo harus segera dilakukan penggantian, mencegah dampak penularan kerusakan karena bearing aus tadi.

Ketika dipaksakan beroperasi mesin yang sebenarnya sudah terdapat komponen aus, maka tidak bisa dijamin bahwa mesin tersebut dapat memberikan kinerja 100%. Secara fisikpun keausan mesin dapat diketahui misalnya adanya getaran tinggi akibat bearing aus sehingga terlihat rotasi conveyor tersendat - sendat dan merusak bahan. Begitu juga berlaku bagi semua komponen aus. Mengacu data predictive maintenance, segera lakukan penggantian komponen aus atau jatuh tempo.

Apakah sudah disiapkan komponen / sparepart pengganti ?

Database predictive maintenance tentang data komponen beserta umur pemakaiannya kurang berguna dan hanya akan menjadi data saja jika saat penggantian ternyata belum ada stock. Bagaimana menyikapi supaya ketersediaan komponen siap setiap akan digunakan?

Jawabannya adalah bagaimana cara kita mengatur gudang secara efektif agar tidak terjadi stock out.

5. Kegagalan fungsi sistem mekanik

Kegagalan fungsi sistem mekanik penyebab masalah quality maintenance berupa sesuatu berhubungan dengan pengaturan pergerakan mesin secara mekanik. Sistem gerak mekanik dapat berupa sistem hydraulic (sumber tenaga oli) dan sistem pneumatic (sumber tenaga angin). Masalah quality maintenance timbul ketika pergerakan mesin tidak sesuai standar tekanannya dalam satuan Bar.

Umpamanya suatu mesin injection molding di industri rubber part automotive, tekanan hydraulic press cetakan produk berbeda dari standar seharusnya sehingga ketika saat tes hardness ketika produk akan packing ternyata hasilnya diluar kriteria. Dan ini belum terdeteksi selama proses di mesin injection terkait belum ada pemeriksaan.

Contoh lainnya, suatu mesin drilling auto di industri furniture produsen panel, tekanan angin kompresor untuk mendorong bor, kurang dari 5 bar akibat drop tekanan kompresor sehingga ada sebagian lubang bor menjadi dangkal akibatnya panel tidak dapat dirakit. Akibat dari kejadian ini terpaksa harus rework produk reject tersebut dan warning bagi operator agar memberikan perhatian lebih dalam memelihara mutu produk.

Sebagian besar masalah tekanan hydraulic atau pneumatic ini umumnya dari adanya kebocoran di instalasi hydraulic atau pneumatic ditambah tidak terdeteksi saat autonomous maintenance atau saat inspeksi perawatan berkala, karena kemungkinan besar penerapan keduanya tanpa konsisten dalam pelaksanaannya.

6. Pemakaian melebihi kapasitas mesin produksi

Poin terakhir dari rangkuman masalah quality maintenance. Setiap mesin produksi memiliki spesifikasi tersendiri tentang teknis dan kapasitas mesin sesuai model yang dikeluarkan pembuat mesin. Variasi model menentukan kemampuan dan harga jual mesin ke konsumen dan biasanya berbanding lurus antara kapasitas mesin dengan nilai jualnya.

Pemakaian mesin dengan kapasitas yang lebih besar sudah tentu akan mendongkrak target produksi lebih tinggi tetapi pencapaian target produksi harus mempertimbangkan kemampuan mesinnya.

Penggunaan kapasitas lebih yang dipaksakan menimbulkan mutu rendah yang tidak diketahui saat proses berlangsung. Seperti contohnya mempercepat speed conveyor di luar batas yang ditetapkan maka akan ada resiko lain yang menyertai seperti benturan produk dengan body mesin atau ketidak seimbangan dengan suplai material supportnya.

0 Comments