Penerapan TPM Pilar 4 Perbaikan Terfokus Dengan Kelompok Kerja Khusus

Kunci penerapan TPM pilar 4 adalah perbaikan terfokus dengan membentuk kelompok kerja khusus proaktif untuk mengidentifikasikan mesin produksi, tooling dan material handling yang memerlukan perubahan lebih efektif dan efisien berdasarkan kondisi awal peralatan sehingga kinerja dan produktivitas mesin lebih tinggi, peralatan kerja tepat guna dan material handling lebih baik dari sebelumnya.

Kelompok kerja khusus dimaksud ditujukan kepada production engineering karena prinsip kerja production engineering adalah proyek perbaikan dan modifikasi.
TPM pilar 4

Proyek production engineering berasal dari:
  1. Hasil pemeriksaan sendiri team production engineering
  2. Perbaikan overhoul Maintenance
  3. Permintaan produksi
  4. Permintaan manajemen puncak untuk membuat produktivitas meningkat dengan biaya proses lebih murah
  5. Permintaan khusus dari konsumen.
Ruang lingkup tugas production engineering sebagai kelompok kerja khusus meliputi
  1. Mesin Produksi
  2. Tooling
  3. Material Handling
1. Mesin Produksi

Waktu operasional mesin produksi berbanding lurus dengan penurunan kinerja mesin produksi tersebut sehingga terjadi perbedaan output saat ini dibanding saat awal.

Contohnya proses produksi pada kondisi mesin baru bisa menghasilkan output 100 pcs seminggu namun setahun berikutnya belum dapat dijamin pencapaian output 100 pcs seminggu tersebut.

Cara mengatasi laju penurunan kinerja mesin produksi harus diperhatikan bahwa dalam konsep pilar TPM 4 ini tidak ada target zerro defect atau zerro berakdown. Sasaran pilar 4 TPM adalah konsistensi produktivitas tinggi dalam setiap proses produksi. Jadi cara mengatasinya yaitu improvement bertujuan mengembalikan ke standar kondisi awal.

Contoh tugas production engineering dalam ruang lingkup mesin produksi:

Industri rubber part automotive terdapat mesin hose extruder pembuat radiator hose kendaraan. Awal pemasangan mesin bisa diproduksi radiator hose 10000 pcs seminggu. Setahun berikutnya terjadi penurunan output menjadi 9950 pcs seminggu atau turun 50 pcs seminggu.

Tugas production engineering adalah bagaimana mengembalikan output produk mesin hose extruder menjadi 10000 pcs dalam seminggu. Disini production engineering tidak ada kewajiban mengatasi masalah defect karena defect merupakan permasalahan produksi.

Solusi production engineering yaitu memangkas perjalanan produk antara dies extruder menuju mesin braiding pelapis benang nilon pada radiator hose. Dari dies extruder kondisi temperature bahan masih panas. Proses pendinginan melalui sistem conveying panjang dan ini dapat dipangkas dengan menciptakan pendingin air agar proses mejadi lebih cepat menuju proses berikutnya.

Adanya penghematan waktu proses ini output bisa kembali seperti saat awal mesin baru yaitu 10000 pcs seminggu.

Contoh lainnya industri furniture memproduksi rak tv, kitchen set, meja, rak buku dan tempat tidur. Terdapat mesin Edging untuk melapisi produk bagian pinggir menggunakan bahan PVC sesuai warnanya.

Production engineering bisa mempelajari perjalanan proses di mesin edging dan mengamati celah perbaikan agar bisa memperpendek waktu proses.

Pengamatan tertuju ketika proses memasukan bahan ke mesin edging. Susunan bahan di atas palet yang akan diproses edging, satu per satu diambil operator dan dimasukan ke mesin edging. Waktu pengambilan antara susunan paling atas dengan paling bawah terjadi perbedaan waktu, posisi paling bawah lebih lama karena jangkauan lebih jauh bahkan operator harus menundukan badannya saat pengambilan.

Proyek perbaikan terfokus production engineering adalah memangkas perbedaan waktu pengambilan bahan dari palet dengan cara membuat atau memasang lifting table yaitu meja yang bisa digerakan naik turun menggunakan sistem hydraulic dan operator tinggal injak foot switch untuk menjalankan lifting table tersebut.

2. Tooling

Tooling atau peralatan kerja adalah peralatan pendukung proses produksi contohnya dies, mould, mata bor dan pisau potong. Tooling bukan peralatan kerja seperti obeng, tang dan sejenisnya karena itu termasuk peralatan kerja maintenance.

Production engineering memiliki sistem tooling management. Tidak ada tooling status stock out berikut metode penyimpanannya. SOP gudang atau SOP tooling management dipakai untuk membuat proses kerja menjadi tertib dan teratur. Beberapa tooling tertentu seperti pisau potong furniture memastikan jadwal pengasahan pisau sesuai kebutuhan plant.

Pisau besar seperti pisau pencacah limbah B3 di industri pengolahan limbah, contohnya pisau shredder, ketersediaan pasokan pisau ini harus diperhitungkan secara matang terkait sampai saat ini belum ada sparepart lokal untuk kualitas mengikuti original. Bahkan ketika terpaksa pemakaian lokal, harus dipastikan sertifikasi uji material pisau shredder ini serta hasil Non Destruction Test (NDT).

3. Material Handling

Ruang lingkup terakhir sama dengan ruang lingkup pertama berhubungan proyek kerja, perbedaannya terletak di lokasi kerjanya. Material handling berhubungan dalam pemindahan bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi dari satu proses ke proses berikutnya.

Permintaan konsumen yang menginginkan produk segera terkirim dan adanya DO (Delivery Order) terpending di logistik terkait belum tersedianya barang jadi Finish Goods siap kirim mengharuskan production engineering mencari cara agar antara proses ke proses berikutnya dapat dibuat cepat dan efisien.

Contoh tugas production engineering sehubungan material handling.

Industri pengolahan kaca, lembaran kaca standar diubah menjadi ukuran sesuai permintaan konsumen. Proses pemindahan kaca menggunakan rubber vacuum yang ditempelkan di kaca. Pada saat akan dipindahkan harus menggunakan mesin hoist crane dan kaca diangkat oleh cantolan pada handle rubber vacuum tersebut.

Jika diperhatikan banyak pemborosan waktu pada proses tersebut disamping faktor keselamatan kerja. Tugas production engineering membuat proses pemindahan tersebut lebih cepat dan aman. Salah satunya membuat roller conveyor table yang saling terhubung diantara mesin sehingga kaca akan selalu berada di atas roler conveyor tersebut sampai proses akhir yaitu penyusunan dan pengemasan.

Pembuatan roler conveyor juga bisa diterapkan pada industri furniture, yang membedakan adalah tinggi conveyornya. Untuk furniture roler conveyor dapat dibuat hanya setinggi 30 cm dari lantai berdasarkan pertimbangan bahwa penyusunan bisa sampai 60 lembar diatas roler conveyor tersebut. Saat akan dipindahkan oleh operator tinggal mendorong susunan bahan di atas roler conveyor tersebut.

0 Comments