Pilar TPM 7 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pilar TPM ke-7 tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja merupakan upaya mencegah aktivitas atau kondisi yang berpotensi membahayakan keselamatan dan menimbulkan penyakit akibat kerja melalui peningkatan kualitas karyawan sebagai individu yang menjalankan roda pekerjaan sehingga tercapai kondisi zerro accident.

Sebagai gambaran betapa pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja adalah adanya intervensi pemerintah melalui penetapan aturan keselamatan dan kesehatan kerja agar dipatuhi dan dijalankan di semua perusahaan tertuang dalam bentuk undang - undang dan peraturan pemerintah berikut ini:
1. Undang - Undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
2. Undang - Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Kerja
3. Undang - Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
4. Peraturan Pemerintah Bo, 7 tahun 1973 tentang Pengawasan atas peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida
5. Undang - Undang No. 13 tahun 1973 tentang Pengaturan dan pengawasan keselamatan kerja di bidang pertambangan.
6. Peraturan Menteri No.5 tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja.
7. keputusan presiden No. 22 tahun 1993 penyakit yang timbul akibat hubungan kerja

Ruang lingkup penerapan pilar 7 TPM meliputi keselamatan dan kesehatan kerja

1. Keselamatan Kerja

Resiko terjadinya kecelakaan kerja bisa terjadi di lingkungan tempat bekerja oleh karena itu mengutamakan keselamatan kerja selama bekerja menjadi kewajiban bagi pimpinan tempat kerja dan kewajiban karyawan sendiri.

Keselamatan kerja harus disadari sepenuhnya sebagai kewajiban dan tanggung jawab bersama antara perusahaan dan karyawan yang diatur dalam PKB (Perjanjian Kerja Bersama) sehingga jelas mengenai hak dan kewajiban masing-masing dalam hal keselamatan kerja, baik para karyawan maupun perusahaan serta pengaturan tentang sanksi - sanksi apabila salah satu pihak melanggar ketentuan PKB.

Perusahaan harus memiliki kebijakan tegas menjaga kedisiplinan karyawan dalam mengutamakan keselamatan kerja. Jika terjadi kecelakaan kerja maka perusahaan harus dapat mempelajari sumber penyebabnya dan bagaimana langkah pencegahan agar kecelakaan kerja tidak terjadi lagi dikemudian hari.

Sebagai catatan bahwa sumber penyebab kecelakaan kerja adalah
  1. Prilaku yang tidak aman sekitar 88%
  2. Lingkungan yang tidak aman sebesar 10%
  3. Faktor lainnya sebesar 2% seperti disebabkan faktor bencana alam.
keselamatan dan kesehatan kerja

Pelaksanaan target zerro accident program TPM berdasarkan Undang - Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan kerja pasal 3 sebagai berikut:
  1. Pencegahan dan mengurangi kecelakaan kerja.
  2. Pencegahan, mengurangi dan memadamkan kebakaran.
  3. Pencegahan dan mengurangi bahaya peledakan.
  4. Membuat jalur evakuasi keadaan darurat.
  5. Menyediakan P3K kecelakaan kerja.
  6. Mewajibkan pemakaian APD pada setiap tenaga kerja.
  7. Pencegahan dan mengendalikan timbulnya penyebaran panas, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, radiasi, kebisingan dan getaran.
  8. Pencegahan dan mengendalikan PAK (Penyakit Akibat Kerja) dan keracunan.
  9. Penerangan cukup dan sesuai.
  10. Suhu dan kelembaban udara baik.
  11. Menyediakan ventilasi memadai.
  12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.
Bagaimana pemenuhan syarat keselamatan kerja sesuai undang - undang no.1 tahun 1970 akan menjadi pekerjaan rumah bagi manajemen perusahaan. TPM bersama GA mencari solusi pemenuhan syarat keselamatan kerja sehubungan akan adanya sanksi pemerintah jika peryaratan keselamatan kerja tidak dipenuhi.

Keberhasilan penerapan keselamatan kerja akan dipantau melalui pencapaian target zerro accident dan menjadi bagian TTMK3L departemen. Contoh target zerro accident pada departemen produksi diantaranya tidak terjadi kecelakaan kerja dalam 1 juta jam kerja mesin produksi.

TTMK3L (Target dan Tujuan Mutu Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan) adalah pengganti KPI (Key Performance Indicator) bagi perusahaan yang sudah menerapkan standar mutu ISO 14001 dan OHSAS 18001.

TPM melalui staff TPM selain melakukan pendataan pencapaian target zerro accident, juga aktif terjun bersama P2K3 dan safety officer dalam melakukan inspeksi dan pencegahan terhadap prilaku pekerja yang tidak aman serta sumber potensi bahaya bagi keselamatan pekerja.

Staff TPM, Safety Officer dan anggota P2K3 memiliki kewenangan khusus untuk menghentikan setiap kegiatan berpotensi membahayakan keselamatan jiwa dan aset. Sebelumnya mereka sudah dibekali pemahaman mengenai keselamatan kerja dan prosedur penghentian aktivitas kerja. Mereka akan diberi name tag tersendiri berupa name tag SWO (Stop Work Operation) dan memegang kartu tilang yang langsung dilaporkan sampai direksi.

2. Kesehatan Kerja

Program TPM dalam kesehatan kerja adalah upaya pencapaian target zerro crisis diantaranya masalah kesehatan karyawan agar tetap terjaga selama bekerja diantaranya memfasilitasi pelayanan kesehatan di dalam lingkungan pabrik seperti penyediaan poliklinik pabrik berikut dokter khusus poliklinik pabrik tersebut.

Staff TPM bersama team P2K3 aktif melakukan inspeksi dan pemantauan terhadap pelayanan kesehatan ini dan melakukan evaluasi pada pelayanan dokter poliklinik serta obat - obatan di poliklinik pabrik.

Pendataan pada pencapaian target zerro crisis sesuai pilar 7 TPM berupa kalkulasi terhadap jumlah pekerja berobat di poliklinik perusahaan. Jika didapati jumlah pekerja berobat tersebut dalam jumlah banyak setiap bulannya maka harus dipelajari sumber penyebab banyaknya penyakit tersebut.

Pelayanan kesehatan lainnya berupa Medical Check Up (MCU) karyawan minimal setahun sekali bertujuan mengetahui kondisi kesehatan karyawan. Hasil MCU akan menentukan sifat pekerjaan karyawan selanjutnya apakah tetap ditempat semula atau harus dipindahkan ke bagian lainnya.

Dilakukannya MCU ini maka akan terdeteksi kemungkinan adanya beberpa penyakit di lingkungan pekerjaan.

Beberapa penyakit akibat kerja diantaranya adalah rinitis, rinosinusitis, pneumonitis, aspergilosis akut bronchopulmoner, hipersensitivitas lateks, penyakit jamur, dermatitis kontak, anafilaksis, bronchitis kronis, emfisema, karsinoma bronkus, fibrosis, TBC, mesetelioma, pneumonia, sarkoidosis, kanker oesofagus (tambang batu bara dan vulkanisir karet), cirhosis hati, gagal ginjal, vesica urinaria, anemia akibat bahan kimia timbal (Pb), leukimia akibat bahan kimia benzena, jantung koroner, febrilasi ventricel, infertilitas, kerusakan janin, keguguran, sindroma raynaud, carval turnel syndroma, sakit punggung, penurunan pendengaran, conjungtivitis, katarak, pusing, sering lupa, depresi, neuropati perifer, ataksia serebeler, ansietas, leptospirosis, brucellosis, keracunan, ketulian, hyperpireksi, milliaria, heat cramp, heat exhaustion, heat stroke dan coison diseae.

Sumber penyebab semua penyakit akibat kerja tersebut adalah
  1. Bahan kimia berbahaya dan beracun
  2. Micro biologis
  3. Micro particle
  4. Beban kerja fisik dan mental
  5. Sarana kerja kurang mendukung.
Patroli kesehatan kerja bersama antara TPM dan P2K3 fokus dengan mengendalikan faktor lingkungan kerja, pemeriksaan berkala terhadap pemaparan lingkungan kerja, identifikasi potensi bahaya, memantau tingkat pemaparan bahan berbahaya dan menjaga tempat kerja tetap sehat.

Penurunan kesehatan karyawan dapat disebabkan pula akibat ketidak seimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat. Contohnya terjadi ketika melakukan kerja lembur di hari sabtu dan minggu apalagi dilakukan beberapa kali berturut - turut. Dampaknya seperti kelelahan fisik dan psikis ketika masuk kerja kembali di hari senin sehingga mengganggu produktivitas bekerja.

Perusahaan seharusnya dapat menyiasati kondisi ini agar kesehatan kerja tetap terjaga tetapi hasil tercapai sesuai target, umpamanya dengan pemberian reward jika target terpenuhi tanpa adanya tambahan lembur sehingga semua karyawan terpacu dengan kinerja maksimal supaya dapat menyelesaikan target tepat waktu.

Bagaimana Goal TPM untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tidak terjadi kecelakaan kerja dan tidak ada karyawan terjangkit penyakit akibat kerja dalam kurun waktu tertentu. Pendataan pencapaian target zerro accident dan zerro crisis ini dilakukan di setiap departemen dengan memasukannya sebagai bagian KPI atau TTMK3L departemen dengan report presentasi setiap bulan.

baca juga: Pelatihan dan Sosialisasi Program TPM

Pada setiap kejadian 1 kecelakaan kerja maka penghitungan target zerro accident akan reset dari awal lagi. Tidak ada toleransi untuk penyakit akibat kerja oleh bahan kimia berbahaya dan beracun, jika terjadi 1 kali kejadian harus segera dituntaskan situasi penyebab kejadian tersebut.

0 Comments

Posting Komentar

Admin akan berupaya membalas setiap komentar Anda kecuali dari Anonim akan dibalas berdasarkan pertimbangan tertentu. Terima kasih