Cara Menghentikan 7 Pemborosan Tanpa Biaya

Hambatan menjalankan proses produksi untuk memenuhi target produksi sesuai jadwal diantaranya terdapat 7 pemborosan kerja tanpa disadari sedang dilakukan sehingga menyebabkan pemborosan waktu dan pemborosan biaya sehingga diperlukan cara menghentikan 7 pemborosan meliputi produksi berlebihan, inventory berlebihan, defect produk, pemindahan atau transportasi, gerakan berlebihan, menunggu dan proses berlebihan yang sebenarnya 7 pemborosan ini dapat dihentikan tanpa mengeluarkan biaya.

1. Cara menghentikan pemborosan kerja akibat produksi Berlebihan

Penentuan kapasitas produk berdasarkan jumlah order pelanggan sesuai prinsip Just In Time (JIT), pelanggan membuat order dalam jumlah spesifik kemudian produk dibuat berdasarkan jumlah spesifik tersebut.

Alat komunikasi pelanggan berupa Kanban atau KP3 (Kartu Pengantar Proses Produksi). Kanban berlaku pada pelanggan ekternal (customer) dan pelanggan internal (antar unit kerja).

Menghitung kapasitas produk aktual sangat penting agar menghindari kelebihan produksi. Biaya produksi lebih hemat serta harga jual produk bisa ditekan sampai batas margin profit tetapi masih menguntungkan perusahaan.

cara menghentikan 7 pemborosan tanpa biaya

Proses produksi hanya dilakukan sesuai target dan kapasitas produk berdasarkan jumlah order pelanggan dalam setiap PO (Purchase Order). Melakukan proses produksi diluar jumlah PO merupakan tindakan pemborosan kerja walaupun alasannya untuk safety stock maupun Just In Case.

Kebiasaan melakukan produksi berlebihan walaupun telah mengetahui kerugian produksi berlebihan tersebut dapat kita temukan pada industri heterogen karena memiliki keseringan melakukan proses seting mesin produksi untuk pergantian proses produk. Durasi seting mesin produksi dapat memakan waktu lama hingga 2 jam sekali seting dalam frekuensi pergantian tinggi setiap minggu.

Proses seting mesin akan mengurangi material produksi terkait hasil seting mesin belum tentu bisa langsung jadi produk sesuai standarnya. Proses produksi harus melakukan tambahan jumlah produk demi menutupi produk gagal akibat seting mesin produksi tersebut. Faktor ini sangat mempengaruhi perhitungan kapasitas produk sehingga perlu ditentukan lagi perhitungan kapasitas produk di luar standar.

Selain hal tersebut, kebiasaan memproduksi produk kualitas rendah karena ketidak mampuan dalam menghasilkan produk sempurna secara keseluruhan, terpaksa jumlah produksi dibuat berlebih untuk pemilahan produk akhir yang memenuhi standar.

Kedua kebiasan ini sebaiknya dihilangkan agar kerugian perusahaan bisa dihentikan sehingga daya saing bisnis perusahaan bisa meningkat. Salah satu upaya perbaikannya melalui penerapan TPM pilar 4 perbaikan terfokus dengan kelompok kerja khusus dan pengendalian dari awal pembuatan produk baru sebelum produksi masal.

2. Cara menghentikan pemborosan kerja akibat inventory Berlebihan

Semua barang di gudang inventory adalah modal mengendap perusahaan. Semakin lama mengendap bisa menurunkan profit perusahaan karena perputaran modal berhenti tanpa menghasilkan output.

Barang maupun sparepart dalam waktu lama tersimpan kemungkinan akan mengalami kerusakan sebelum dipakai sehingga harus membuat pengadaan baru saat diperlukan sehingga menimbulkan pemborosan biaya pengadaan 2 kali terhadap barang sama.

Ruang lingkup inventory mencakup gudang material utama, gudang support material, gudang barang jadi (finish good) serta gudang sparepart. Setiap gudang perlu dikelola berbentuk manajemen gudang masing - masing seperti manajemen gudang material, manajemen gudang finish good dan manajemen gudang sparepart.

Buat SOP contohnya SOP gudang spare part agar inventory dapat dikelola secara tepat. Tujuannya mengurangi barang mengendap tanpa menimbulkan stock out.

Inventory berlebihan bisa diakibatkan pula dari imbas masalah proses produksi berlebihan sehingga mengakibatkan penggunaan area gudang lebih banyak. Lokasi gudang semakin sempit serta menimbulkan pemborosan waktu dan tenaga untuk pengaturan tempat agar dapat meletakan barang lainnya dengan kondisi area gudang sempit tadi. Selain ini, imbas dari produksi berlebihan karena masalah defect, area gudang menjadi tempat penyimpanan sementara finish good sampai proses rework defect tuntas.

Cara mengatasi masalah inventory berlebihan akibat produksi berlebihan tersebut dengan penolakan tegas PPIC agar produk jangan masuk gudang mencegah pemborosan di inventory. Jika sikap ini diambil maka produksi akan berpikir 2 kali melakukan produksi berlebihan karena kurang tersedia tempat penyimpanan hasil produksinya.

Jadi upaya membuat inventory tidak berlebihan atau inventory efisien dengan tidak membuat pengendapan inventory, manajemen gudang dan tidak menjadikan gudang sebagai tempat penyimpanan sementara.

3. Cara menghentikan pemborosan kerja akibat defect produk

Hambatan dalam proses produksi dalam memenuhi JIT yaitu ketika terjadi defect produk. Produk terlalu banyak defect, baik disebabkan proses produksi maupun proses lainnya seperti seting mesin produksi. Produksi harus mengejar kekurangan target produksi dengan cara rework. Tambahan aktivitas ini menyebabkan pemborosan waktu produksi serta pembengkakan variable cost dan fixed cost.

Jika kenyataannya defect masih sering muncul selama proses produksi maka sebaiknya melakukan evaluasi kerja terhadap quality control apakah sudah benar - benar efektif pelakasanaannya sesuai SOP Quality Control.

Mungkin ada pemahaman bahwa Team QC melakukan pengecekan kualitas saat barang sudah packing. Gaya seperti ini sebenarnya kurang tepat karena defect terjadi bukan diakhir proses tetapi terjadi selama proses produksi berjalan.

Cara menghilangkan defect secara efisien adalah melakukan kontrol kualitas setiap proses kerja melalui prinsip penjagaan kualitas:
  • Tidak menerima barang cacat
  • Tidak membuat barang cacat
  • Tidak mengirimkan barang cacat
Jika 3 poin penjagaan kualitas ini dijalankan dengan ketat maka jumlah defect semakin berkurang bahkan bisa mencapai zerro defect.

4. Cara menghentikan pemborosan kerja akibat pemindahan atau Transportasi

Pemindahan meliputi bahan baku, WIP dan finish goods ketika akan diproses produksi atau penyimpanan ke gudang finish goods. Pemborosan akan muncul sebagai aktivitas tambahan saat proses pemindahan dan hal ini banyak ditemukan pada industri heterogen.

Bahan Baku:
Posisi bahan baku di area proses disesuaikan setiap batch. Terlalu banyak batch bahan baku disekitar proses menimbulkan tambahan waktu kerja operator untuk memindah mindahkan batch agar rapi dan teratur dan ini memboroskan waktu kerja operator. Jumlah batch seharusnya hanya sesuai dengan kanban proses bahan baku.

Dalam sektor industri pengolahan barang seperti pengolahan kayu, pengolahan kaca dan sejenisnya maka bahan baku disediakan berbentuk tumpukan lembaran bahan dengan dimensi dan spesifikasi berbeda. Pemborosan terjadi ketika pencarian bahan baku dengan pemindahan sementara bahan baku tersebut.

Guna mengatasi masalah ini maka setiap jenis bahan baku diberikan label identifikasi agar bisa mudah dilihat operator saat pencarian bahan baku.

WIP
Pemindahan WIP antar proses yang terlalu jauh memerlukan waktu lebih lama. Cara mengatasinya agar lebih cepat proses pemindahan WIP dengan relayout posisi mesin produksi sehingga ada kesinambungan antara mesin produksi tersebut.

Contoh bahan furniture ketika setelah selesai dipotong di mesin potong tidak langsung masuk ke mesin bor, tetapi harus dibentuk dulu di mesin pembentukan. Dengan demikian, posisi mesin pembentukan harus lebih dekat pada mesin potong dibandingkan dengan mesin bor.

Improvement alat transportasi WIP. Contoh jika pemindahan WIP menggunakan forklift atau electric pallet mover, akan lebih hemat waktu dengan penggunaan sistem conveyor. Pemakaian forklift terus menerus memboroskan biaya solar industri, maintenance dan DLC. Belum lagi jika terjadi kerusakan forklift atau pallet mover maka proses produksi bisa berhenti.

Finish Goods
Sama seperti pemindahan WIP, pemindahan finish goods wajib dilakukan karena bisa menghentikan proses produksi akibat penumpukan finish goods di akhir proses area produksi. Semakin cepat proses pemindahan finish goods maka semakin ringan langkah proses produksi.

Lansir finish goods umumnya dilakukan menggunakan forklift kecuali industri homogen seperti industri semen tidak menggunakan forklift tetapi dengan sistem conveyor.

Penghematan dilakukan dengan menerapkan metode FIFO dalam pemindahan finish goods sehingga ketika dalam gudang finish goods langsung tertata penyimpanannya saat itu maka forklift akan mempunyai banyak waktu melakukan lansir. Tetapi jika pabrik Anda termasuk industri homogen, sebaiknya lansir menggunakan sistem konveyor.

5. Cara menghentikan pemborosan kerja akibat gerakan berlebihan

Pergerakan orang maupun mesin produksi berlebihan tanpa menambah nilai produk dan kapasitas produk merupakan bentuk pemborosan. Pergerakan seperti ini biasanya tidak disadari karena sudah jadi kebiasaan saat bekerja. Seseorang harus menyadarkan kekeliruan dengan membuat metode lebih sederhana dari pola gerakan pemborosan ini.

Contohnya, proses penyusunan komponen WIP dalam setiap palet harus berjumlah 30 lembar komponen. Ketika hampir mencapai perkiraan 30 lembar, operator akan melakukan penghitungan supaya setiap palet terisi 30 lembar. Proses ini akan lebih hemat jika aktivitas perhitungan komponen dihilangkan dengan diganti membuat mal standar 30 komponen. Jadi si operator akan menyusun terus sampai terlihat posisi mal di 30 komponen.

Contoh pergerakan mesin, suatu mesin edging furniture, komponen saat keluar dari mesin diperlukan 1 operator untuk memotong sisa edging. Kondisi ini dapat dirubah dengan memasang sensor dan sistem potong automatis sehingga keberadaan operator tidak diperlukan.

6. Cara menghentikan pemborosan kerja akibat menunggu

Menunggu adalah pemborosan kerja karena tidak ada aktivitas dan tidak ada hasil. Menunggu menunjukan ada kesalahan dalam proses produksi tetapi tidak terdeteksi sebelumnya.

Contoh penyebab menunggu adalah breakdown mesin. Ketika proses produksi berjalan, ada mesin produksi secara mendadak mengalami kerusakan sehingga operasi terhenti serta menyebabkan operator menunggu.

Jika kita berkeinginan menghilangkan status menunggu maka sebenarnya antisipasi terhadap kemungkinan kerusakan mesin dapat dilakukan melalui mengoptimalkan sistem maintenance mesin.

Tugas pokok Maintenance menjaga ketersediaan mesin 100% melalui predictive maintenance supaya mencegah breakdown mesin ketika proses berjalan.

Contoh penyebab menunggu lainnya, kondisi produksi berhenti karena kehabisan bahan baku menyebabkan status menunggu sampai material tersedia. Inventory management untuk material utama kemungkinan terjadi kesalahan data menyebabkan gagal prediksi safety stock dan ROP material ini.

7. Cara menghentikan pemborosan kerja akibat proses berlebihan

Pada dasarnya setiap proses kerja bertujuan untuk menambahkan nilai dan kapasitas produk. Proses ini dimulai dari pengolahan bahan baku menjadi barang setengah jadi kemudian menjadi barang jadi siap dikirim ke customer. Proses kerja harus sederhana dan efisien sehingga bisa memenuhi kapasitas produk dan pengiriman tepat waktu ke pelanggan.

Pada kenyataannya, banyak aktivitas diluar proses produksi yang dikerjakan karena akan membuat lebih baik ke depannya. Sebagai contoh autonomous maintenance untuk pemeriksaan kondisi mesin produksi meliputi pembersihan, pelumasan dan pengencangan. Program ini sangat baik untuk perawatan mesin produksi sehingga tidak ada permasalahan selama proses kerja berjalan.

Namun pada pelaksanaannya harus dipelajari tingkat keefektifan sehingga terarah hanya untuk autonomous maintenance dan waktu benar - benar efisien sehinga tidak menggangu waktu operasi mesin produksi.

0 Comments